Author: admin

  • Sate Klathak Jejeran Wonokromo

    Sate Klathak Jejeran Wonokromo

    Prolog

    Sate Klathak Wonokromo, Selalu ada kabar gembira berasal dari kepulan asap, bunyi kratak-kratak dan bau gurih daging kambing muda tanpa lemak yang terbakar. Tukang sate yang tengah mengipas anglo tanah liat atau tempat pembakaran, berwajah cerah. Sebab setiap tusuk sate yang penusuknya terdiri dari deruji sepeda berarti rupiah. Setiap beberapa tusuk daging kambing matang atau setengah matang disajikan ke pembeli yang tengah bermimpi merasakan lezatnya hidangan sate, berarti jumlah rupiah makin bertambah.

    Sebenarnya bukan semata jumlah rupiah yang makin bertambah, menyusul susutnya persediaan daging kambing yang telah diiris rapi siap ditusuk dan dibakar, tetapi melimpahnya rasa syukur kepada Tuhan oleh penjual Sate Klathak Wonokromo karena telah melahirkan dan mengutus hambanya bernama Mbah Ambyah yang telah merintis usaha Sate Klathak sejak tahun 1940. Ketika ilmu memanggang Sate Klathak yang dimiliki Mbah Ambyah kemudian diturunkan kepada anak cucu, buyut dan cicitnya melahirkan puluhan penjual Sate Klathak di sepanjang jalan Imogiri Timur Yogyakarta, merambah ke jalan Jejeran menuju Stadion Sultan Agung dan lokasi lain, maka yang sesungguhnya terjadi adalah Mbah Ambyah telah mewariskan amal jariyah yang pahalanya tidak terputus menyirami kubur Mbah Amyah dengan berokah dan pahala keutamaan. Mbah Ambyah dan isterinya, menurut catatan keluarga, memiliki banyak anak. Merekalah yang melestarikan Sate Klathak bersama dengan warga desa yang kemudian tertarik membuka warung Sate Klathak menjaga amal jariyah ekonomi sehingga makin lama Sate Klathak makin terkenal, menasional bahkan bisa mendunia. Semoga demikianlah adanya, Aamin.

    Persoalan barokah dan amal jariyah yang mengalir pada diri Mbah Ambyah dan kemudian mengalir kepada anak keturunannya, bahkan kepada para tetangga serta kenalan yang bergelut dengan Sate Klathak ini penting untuk disebut. Sebab pada masyarakat mutakhir seperti sekarang ini, dalam kehidupan sehari-hari yang serba rasional dan teknologis manusia hanya berpikir tentang manfaat, nikmat dan profit atau yang dalam bahasa Jawa disebut bathi. Sesuatu yang ada di balik manfaat, nikmat, profit jarang disebut dan disadari adanya. Mereka hanya memburu manfaat (ekonomi), memburu nikmat (lidah dan tubuh) dan profit atau keuntungan duniawi. Mereka kehilangan hubungan dengan apa yang disebut pahala, nilai barokah dan makna dari tindakan dan perbuatanya. Seorang kiai yang sekaligus seorang wali dari Wonokromo pernah berkata bahwa segala sesuatu kalau dikemonah atau dimenej dengan baik akan mbarokahi dan ngrejekeni, termasuk Sate Klathak yang kalau dimenej dengan baik juga akan mbarokahi dan ngrejekeni.

    Dalam konteks makin ramainya pasar kuliner dan pasar wisata yang menjadikan Sate Klathak Wonokromo menjadi primadona, insya Allah yang terjadi adalah tetap hadirnya semangat ibadah para penjual sate sebagai bagian dari ekspresi beragama yang dewasa. Para aktivis Sate Klathak Wonokromo insya Allah tetap menyadari, memahami dan bersyukur dengan hadirnya barokah yang menghasilkan keutamaan rejeki dan amal jariyah yang menghasilkan mata rantai pahala ketika mereka beraktivitas mulai memilih kambing muda, menyembelih, menguliti, memilih daging tanpa lemak dan mengiris dengan format lebih besar dari irisan sate daging biasa, kemudian menusuknya dengan jeruji sepeda, membumbui dengan garam, menyalakan arang dan mulai memanggang daging kambing itu. Sementaa pembantunya, memasak sayur santan encer untuk penyedap, memasak nasi, dan menyiapkan kecap, serbuk mrica, irisan brambang dan lombok disajikan bagi yang memerlukan. Menjerang air untuk disedu menjadi wedang teh, menyiapkan gula batu dan jeruk, tidak lupa membersihkan kaleng kerupuk. Mereka juga menyadari apa yang mereka lakukan adalah ibadah, ibadah muamalah sehari-hari.

    Kegiatan menjual Sate Klathak kemudian terasa betul-betul mbarokahi dan ngrejekeni ketika sebagian dari hasil penjualan Sate Klathak dialirkan ke masyarakat dalam bentuk amal sosial dan untuk membiayai kegiatan keagamaan, termasuk pengajian dan kegiatan relijius kultural khas Wonokromo.

    Matarantai manfaat dan matarantai pahala ini yang kemudian secara fungsional terbentuk pada saat menjual Sate Klathak dan saat pasca penjualan Sate Klathak berlangsung.

    Dalam suasana dan ekosistem usaha Sate Klathak yang demikian, yang hidup dan disadari bukan hanya soal harga Sate Klathak yang diukur dari banyaknya rupiah yang masuk ke dompet aktivis Sate Klathak, tetapi juga disadari dan dipentingkannya soal nilai. Nilai sebuah usaha Sate Klathak bagi kesejahteraan warga Wonokromo dan bagi warga masyarakat pada umumnya. Termasuk nilai kesehatan.

    Selain itu juga hadir makna-makna utama kehidupan yang menyertai. Antara lain makna relijius bahwa yang dilakukan oleh penjual Sate Klathak dan keluarganya sesungguhnya tengah ‘mengkholifahi’ kambing dan bumi. Ini merupakan tugas kemanusiaan sejak Nabi Adam turun ke bumi. Memakmurkan bumi dengan mendayagunakan para peternak kambing, petani padi, pemanjat kelapa, pembuat garam, petani sayur dan bumbu, pembuat anglo, pembuat arang, pembuat kipas bambu yang ada di desa-desa. Mereka tengah menjalankan tugas kehidupan sebagaimana dinarasikan dalam kitab suci Al Qur’an surat An Nahl bahwa binatang ternak (al an’am) bisa diambil manfaatnya menjadi kendaraan, diambil manfaat susunya, dimakan dagingnya dan dipergunakan untuk keperluan lain bulu-bulu dan kulitnya.

    Dalam hal ini, masyarakat santri seperti masyarakat Wonokromo  memilih makanan bergizi termasuk memilih kambing untuk dijadikan sate, tentu juga dijadikan gulai dan tongseng jeroan dan bagian tubuh kambing lainnya adalah bagian dari mengamalkan ayat suci Al Qur’an. Dalam surat ‘Abasa disebutkan bahwa hendaknya manusia memperhatikan dan menalar apa yang mereka makan. Apalagi ayat-ayat awal pada surat Al Maidah (al maidah artinya hidangan) disebutkan perlunya manusia memperhatikan kehalalan makanannya. Dalam bagian awal surat Al Isra’ malah disebutkan bahwa menyebut nama Allah saat menyembelih hewan ternak adalah wajib untuk membuat statusnya menjadi halal. Di dalam ayat itu disebutkan bahwa menyembelih hewan ternak dengan menyabut nama selain Allah membuat daging hasil penyembelihannya menjadi haram. Tentu dalam hal ini para penjual Sate Klathak Wonokromo ketika menyembelih kambing disertai doa dengan menyebut nama Allah subhanahu wa ta’ala.

    Dengan demikian sesungguhnya satu tusuk Sate Klathak pada hakekatnya bukan sekadar benda ekonomi dan benda bergizi secara kesehatan saja, akan tetapi satu tusuk Sate Klathak memiliki nilai sebagai benda spiritual, dan memiliki makna bahkan posisi dalam kehidupan yang lebih luas dan lebih mendalam dan lebih tinggi dibanding itu. Satu tusuk Sate Klathak, apalagi kalau banyak tusuk atau ribuan tusuk seperti yang pernah disajikan oleh Fakultas Peternakan UGM ketika memperoleh Penghargaan MURI pada tahun-tahun sebelum pandemi, memiliki nilai budaya yang tinggi dan bermakna sosial secara luas serta berada pada posisi terhormat pada kehidupan manusia. Oleh karena itu wajar kalau Sate Klathak mendapat pengakuan dan penghargaan dari Pemerintah sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia tahun 2019.

    Tentu pengakuan dan penghargaan ini membuat masyarakat Wonokromo Pleret Bantul pada umumnya dan para aktivis Sate Klathak pada khususnya makin mantap, bersemangat, makin percaya diri dan makin giat dalam beraktivitas memasak Sate Klathak dan mendukung usaha Sate Klathak yang ilmu pembuatan Sate Klathak ini diturunkan atau diwariskan oleh Mbah Ambyah.

    Masyarakat Wonokromo perlu mensyukuri hal ini karena Sate Klathak merupakan menu kuliner andalan pada pengembangan wisata di Kabupaten Bantul dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Gerakan mempopulerkan Sate Klathak dan gerakan nyate klataknya sendiri saat berkunjung ke lokasi wisata di Bantul perlu didukung ramai-ramai. Tentu, dengan tetap menjaga kelezatannya yang sulit ditandingi.

    Lantas bagaimana tradisi makan daging dalam masyarakat Jawa, pernik sejarah, dan sisi teknis, serta pengembangan pasar sate klatak, serta prospek sate klatak itu sendiri di masa depan? Uraiannya ada pada bagian selanjutnya dari buku ini.

     

    Epilog

    Usaha Sate Klathak Wonokromo bisa disebut usaha yang produktif bahkan sangat produktif karena merupakan produk komunal.

    Komunalitas atau keguyuban serta kerukunan masyarakat Wonokromo menjadi fondasi bagi suksesnya usaha Sate Klathak selama ini.

    Bayangkan, pengusaha inti Sate Klathak Wonokromo masih berada dalam jaringan persaudaraan Bani Ambyah. Mbah Ambyah memiliki anak bernama Murtijan, Wakidi, Jazim Zabidi, Dalbi san Jaelani. Muncul generasi anak, cucu kerabat Mbah Ambyah seperti Hasimi, Pak Jam, Pak Darusalam, Pak Jupaeni, Pak Baru, Pak Jono, Mak Adi, Pak Pong, dan masih banyak lagi, Pengusaha Sate Klathak yang tumbuh berikutnya masih punya relasi yang dekat dengan pengusaha inti Sate Klathak ini.

    Relasi sosial dan relasi kultural, bukan sekadar relasi ekonomi komersial yang selama ini terbangun membuat mereka memiliki semangat dan visi yang sama, memajukan dan meningkatkan usaha Sate Klathak yang merupakan warisan budaya tak benda leluhur mereka. Di antara pengusaha Sate Klathak ini terjalin silaturahmi dan ukhuwah yang erat dan dalam praktek mereka saling bantu membantu. Orang yang baru merintis usaha Sate Klathak dengan modal minim dibantu untuk memperoleh dua sampil kambing yang mereka pajang di warung Sate Klathak yang baru ini.

    Pembeli yang tertarik datang ke warung ini, kemudian merasakan kelezatan Sate Klathaknya bisa menjadi pelanggan tetap. Dan makin banyak pelanggan yang mengunjungi warung Sate Klathak ini berarti makin lama usaha Sate Klathak ini makin maju dan siap menyiapkan stok daging kambing segar satu dua ekor. Demikian seterusnya yang terjadi.

    Usaha mencatat, mendokumentasikan dan menampilkan kembali sejarah perkembangan Sate Klathak yang berbasis tradisi makan daging orang Jawa yang dibangun dari alur bangsawan kerajaan dan jaringan ulama wali sampai kiai desa sangat diperlukan. Pengaruh dari pasang naik dunia pariwisata yang menjadikan kuliner sebagai ikon dan primadona wisata serta percepatan dari mobilitas ide dan informasi tentang Sate Klathak melalui media digital juga perlu diperhitungkan. Pada konten tentang Sate Klathak di media digital maupun media cetak inilah sesungguhnya proses dokumentasi yang terus menerus terjadi. Dan konten media tentang Sate Klathak ini sekarang sudah melimpah ruah, dalam bentuk yang terserak-serak dan belum dihimpun atau dibundeli dalam naskah dengan narasi dan konstruksi yang utuh dan komprehensif.

    Sebuah buku tentang Sate Klathak bisa berfungsi sebagai himpunan dan bundelan informasi tentang Sate Klathak dengan narasi dan deskrispi yang utuh dan komprehensif. Semua ini dilakukan dalam konteks bersyukur agar dengan bersyukur, Tuhan akan terus menambah karunia-karuniaNya pada bumi dan masyarakat Wonokromo, Yogyakarta dan Indonesia. Semoga demikianlah adanya. Aamin.

    Penyusunan buku Kitab Mustika Rasa Sate Klatak Wonokromo ini baru merupakan langkah awal dalam menjaring wawasan, kesadaran, sejarah dan makna kehadiran Sate Klathak di Wonokromo dan sekitarnya. Isinya merupakan narasi trend penting perkembangan Sate Klathak Wonokromo dengan menampilkan banyak spot sejarah, pengalaman, dan kemungkinan masa depan Sate Klathak.

    Penyusunan buku ini berdasarkan riset sederhana atas konten media online dan media offline diperkaya pengalaman menikmati sate di Yogyakarta serta menikmati Sate Klathak di Wonokromo, diperkuat dengan analisis yang bersifat kualitatif.

    Dalam studi agama, pendekatan yang dipergunakan untuk memahami dan merumuskan masalah dalam usaha dan gerakan Sate Klathak Wonokromo ini bisa disebut semacam ‘pendekatan irfani’ yang lebih menyentuh makna dan hakekat peristiwa di balik seluk beluk dan dinamika usaha Sate Klathak di Wonokromo selama ini, kemudian mengkorfirmasi gejalanya pada ayat-ayat di dalam kitab suci.

    Dalam pandangan hidup orang Jawa yang mendalami ajaran agama Islam, kenyataan sehari-hari disebut Jagat kang gumelar dan ayat kitab suci disebut Jagad kang gumulung.

    Dialog bolak-balik dua jagad atau arah pemahaman yang bolak balik atas dua jagad itulah yang hasilnya ditulis dalam “Kitab Mustika Rasa Sate Klatak” ini.

  • Gerakan Sate Klathak dan Maknanya

    Gerakan Sate Klathak dan Maknanya

    Sate Klathak Wonokromo, Gerakan Sate Klathak di Wonokromo tumbuh dan berasal dari masyarakat, oleh masyarakat, bersama masyarakat Wonokomo dan sekitarnya untuk masyarakat Wonokromo, Yogyakarta dan Indonesia. Yang dimaksud dengan gerakan Sate Klathak disini adalah tumbuh dan bergeraknya kesadaran bersama untuk mendukung dan mengembangkan Sate Klathak sesuai dengan peran dan fungsinya masing-masing.

    Para juragan Sate Klathak mengontrol dan mengendalikan kegiatan pra produksi, saat produksi dan pasca produksi Sate Klathak.  Para karyawan usaha sate klatak bekerja secara optimal dan profesional di posisi manapun dalam unit kerja usaha Sate Klathak.

    Para pemasok kambing, beras, bumbu, deruji sepeda, pemasok arang, plastik dan kertas pembungkus, sabun pencuci piring dan pernik-pernik kebutuhan usaha Sate Klathak memasok barang yang berkualitas prima dengan harga pantas kepada pengusaha Sate Klathak.

    Para konsumen atau pembeli tugasnya hanya tiga, (1) menikmati Sate Klathak, (2) membayar harga Sate Klathak dengan wajar dan (3) memberi komentar atas pengalamannya nyate klatak di Wonokromo.

    Pihak yang secara sukarela menjadi komunikator online atau offline juga melakukan kegiatannya dengan rasa suka cita dengan hasil atau produk media sesuai cita-cita.

    Aparat pemerintah setempat, dalam hal ini Pemerintah Kelurahan Wonokromo dan instansi terkait membina dan membuka peluang seluas-luasnya bagi pengembangan usaha Sate Klathak.

    Gerakan Sate Klathak yang muncul dari inisiatif masyarakat lokal ini, uniknya, menggunakan pola partisipasi, bukan mobilisasi. Dengan demikian gerakan ini tumbuh relatif natural dan bisa dengan cepat menyesuaikan diri dengan perkembangan dan perubahan zaman, termasuk pesatnya dunia pariwisata yang tumbuh, berubah dan bergerak di Wonokromo, Bantul, Yogyakarta dan Indonesia.

    Perkembangan dan perubahan cepat industri informasi digital cukup memberi pengaruh signifikan bagi pesatnya gerakan Sate Klathak Wonokromo. Terjadi proses pencitraan positif Sate Klathak yang terus menerus setiap saat di dunia maya.

    Profil juragan sate klatak yang rendah hati dan dermawan, profil karyawan yang ramah dan cepat melayani konsumen dengan tetap menjaga kualitas rasa lezat satenya, profil Sate Klathak sendiri sebagai entitas kuliner terkemuka di Wonokromo, Bantul dan Yogyakarta, dan narasi tentang lezatnya Sate Klathak dalam suasana desa yang tenang dan sejuk muncul dalam pemberitaan formal dan informal di media cetak dan di media digital.

    Mereka yang terlibat dalam gerakan Sate Klathak ini makin hari makin tidak bisa dihitung jumlahnya karena setiap hari bertambah pesertanya. Bahkan dalam setiap jam atau setiap detik muncul dan hadir para peserta gerakan Sate Klathak.

    Sudah berapa ribu atau berapa ratus ribu kambing muda yang dipasok ke Wonokromo? Ini melibatkan berapa puluh atau pemasok dan berapa ratus peternak? Tidak ada yang tahu. Sudah berapa kwintal atau ton arang yang dipasok ke Wonokromo juga sulit dihitung jumlahnya. Berapa kilogram, berapa kwintal atau malahan berapa ton garam sebagai bumbu tunggal Sate Klathak yang masuk Wonokromo, belum ada yang menghitung dan meneliti. Berapa kwintal atau ton gula batu yang selama ini menemani Sate Klathak dalam bentuk minuman teh manis? Belum ada yang sempat menghitung.

    Kalau pengusaha Sate Klathak sukses seperti Pak Pong dibantu seratus karyawan dalam usahanya menjual Sate Klathak dan penjual Sate Klathak yang masih dalam merintis usaha paling tidak dibantu dua orang, maka dalam sehari produksi Sate Klathak di puluhan warung sate berapa ratus jiwa yang kehidupannya ditanggung oleh seluruh usaha Sate Klathak?

    Sungguh sangat bermakna usaha Sate Klathak ini secara ekonomi dan secara kemanusiaan bagi warga Wonokromo dan sekitarnya.

    Tersedianya kesempatan kerja, terbukanya kemungkinan mereka yang memperoleh manfaat dari usaha sate klatak untuk membiayai pendidikan anak-anak mereka dan membiayai kesehatan mereka serta terbangunnya suasana kerjasama dan kolaborasi banyak pihak menunjukkan kalau usaha Sate Klathak memiliki makna kultural dan makna kesejahteraan yang layak diperhitungkan.

    Gerakan Sate Klathak Wonokromo ini cukup menginspirasi kelompok masyarakat di luar Wonokromo bahwa setiap usaha yang digali berdasar potensi lokal memiliki peluang untuk dikembangkan secara maksimal dengan hasil yang dalam bahasa Jawanya murakabi marang kabehane. Murakabi dalam arti ngrejekeni lan mbarokahi secara terus menerus. Dalam konteks ini kejeniusan Mbah Ambyah dan kreativitas para penerusnya patut diberi apresiasi.

    Salah satu bentuk apresiasi yang diberikan oleh Pemerintah melalui Mendikbud adalah memberi pengakuan bahwa Sate Klathak Wonokromo merupakan Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) yang amat berharga bagi masyarakat dan bangsa sehingga perlu senantiasa dilestarikan, dimanfaatkan dan dikembangkan keberadaannya.

  • Sate Klathak  dan Matarantai Ekonomi Berkeadilan

    Sate Klathak dan Matarantai Ekonomi Berkeadilan

    Sate Klathak Wonokromo, Ada matarantai ekonomi yang bergerak cepat, dengan irama usaha mirip irama musik rock, muncul pada saat proses (1) pra produksi Sate Klathak, saat terjadinya proses (2) produksi Sate Klathak dan (3) pasca produksi Sate Klathak di Wonokromi Pleret Bantul dan di daerah-daerah yang dalam jangkauan matarantai atau jaringan produksi Sate Klathak.

    Yang menarik, matarantai ekonomi yang bergerak mengiringi proses produksi Sate Klathak adalah matarantai ekonomi yang berkeadilan sosial. Artinya, masing-masing yang terlibat dalam proses pra produksi, saat produksi dan pasca produksi mendapat bagian keuntungan yang proporsional. Bahkan sebagian keuntungan yang didapat para juragan Sate Klathak dikembalikan ke masyarakat dalam bentuk pembiayaan atas kegiatan sosial, kegiatan keagamaan dan kegiatan adat seni budaya lokal.

    Dengan sukarela dan tulus ikhlas para juragan Sate Klathak mengeluarkan dana semacam dana CSR (corporate social responsibility) secara mandiri dan berkelanjutan tanpa ada yang meminta karena muncul atau mrentul dari hati dan kehendak mereka sendiri. Ini sungguh praktek berekonomi dan merupakan bangunan ekonomi usaha yang berkeadilan sosial yang luar biasa yang dipraktekkan oleh anggota masyarakat Wonokromo dan sekitarnya yang bisa menjadi inspirasi bagi pelaku kegiatan usaha ekonomi produktif di masyarakat umum atau di masyarakat santri di tempat lain di Indonesia.

    Pada saat pra produksi Sate Klathak, saat atau episode persiapan yang aktif terlibat adalah anggota masyarakat yang dalam usaha pertanian, usaha peternakan, usaha energi pembakaran yaitu usaha pembuatan arang, usaha pembuatan dan penyiapan bumbu dan pelengkap seperti usaha pembuatan garam, kecap, angkutan dan yang terlibat dalam usaha perdagangan produk pertanian dan produk peternakan. Secara berkala, produsen dan pedagang jeruji sepeda juga berperan pada pra produksi Sate Klathak. Sebab ketersediaan jeruji merupakan keniscayaan bagi kegiatan produksi Sate Klathak. Adanya kepastian suplai jeruji sepeda memberi rasa aman bagi produsen dan penjual Sate Klathak.

    Apa yang disebut sebagai pasar ternak dan pasar tani sudah bergerak cepat pada saat pra produksi Sate Klathak ini dalam bentuk kegiatan berproduksi dan berdistribusi barang pertanian dan peternakan. Ini juga menghidupkan usaha transportasi barang produk pertanian dan peternakan tesebut. Mereka bergerak untuk mensuplai kebutuhan juragan Sate Klathak dan penjual Sate Klathak di Wonokromo dan tempat-tempat lainnya. Putaran uangnya pada saat pra produksi Sate Klathak ini dalam setahun sudah mencapai puluhan atau bahkan mencapai ratusan miliar rupiah.

    Usia ideal kambing yang disetorkan ke para pengusaha Sate Klathak adalah usia muda. Usia muda di bawah satu tahun. Ini juga mempercepat usaha untuk mendatangkan kambing berusia muda ke Wonokromo. Kambing muda dari Wonosobo, Purworejo, Temanggung dan kambing dari Sumatra pun didatangkan ke Wonokromo untuk menjamin kepastian suplai kambing. Para peternak dan pedagang kambing dari tempat tersebut pun mendapat kepastian kalau hewan mereka akan terbeli dengan harga yang pantas. Mereka mendapat keuntungan yang proporsional sesuai dengan usaha dan posisi mereka sebagai peternak dan pedagang kambing.

    Pada saat proses produksi Sate Klathak yang lebih dominan adalah proses transaksi kontraktual antara karyawan atau pegawai dengan juragan Sate Klathak atau usahawan Sate Klathak.

    Operasionalisasi sumber daya manusia yang memiliki kapasitas dan kompetensi dalam memproses daging kambing mentah menjadi Sate Klathak matang dan lezat sehinga disukai konsumen dan dibeli konsumen. Suksesnya penjualan Sate Klathak ditentukan oleh bekerjanya sumber daya manusia yang profesional di bidang pesateklatakan ini. Uniknya, rekrutmen sumberdaya manusia Sate Klathak berikut proses peningkatan kapasitas kerja menuju derajat kompetensi dalam persateklatakan ini berlangsung secara kultural dan smooth. Proses rekrutmen tenaga kerja Sate Klathak berlangsung setengah tertutup dalam arti lebih mengutamakan warga Wonokromo atau kenalan mereka.

    Peningkatan kapasitas kerja menuju kompetensi dalam persateklatakan berlangsung dengan pola in job training yang murni dan sederhana. Tenaga kerja atau sumber daya manusia yang baru misalnya, masuk ke dalam lingkungan kerja Sate Klathak diawali dengan proses magang, dalam bahasa Jawanya mereka bekerja lewat metode ngematke, niroake lan ngembangke, melihat dan memperhatikan kemudian menirukan apa yang dikerjakan juragan Sate Klathak atau karyawan senior kemudian mengembangkan ketrampilannya.

    Dengan pola kerja seperti ini lama kelamaan mereka akan wanuh, dan memiliki keterampilan dalam membakar sate, mengetahui standar waktu yang diperlukan untuk mematangkan Sate Klathak. Juga mengetahui seberapa banyak garam perlu ditaburkan ke dalam daging. Mereka juga mengetahui standar usia kambing dan menaksir beratnya untuk menentukan harga kambing yang akan dibeli dari pemasok kambing. Ketrampilan dasar dalam persateklatakan ini terus diasah untuk sampai ke tingkat ahli.

    Setelah berada pada level ahli mereka memiliki kompetensi untuk membuka cabang misalnya. Tentu kendali mutu dan kendali kerja mereka tetap berada di bawah kontrol otoritas juragan Sate Klathak mereka.

    Pada saat pasca produksi Sate Klathak maka yang berlangsung adalah proses transaksi jual beli antara juragan Sate Klathak atau pengelola cabang warung Sate Klathak dengan pembeli atau konsumen Sate Klathak. Tugas juragan Sate Klathak, pengelola cabang warung Sate Klathak pada proses pasca produksi ini adalah memberikan pelayanan yang optimal kepada pembeli atau konsumen Sate Klathak.

    Pelayana in door berupa pelayanan di dalam warung yang intinya membangun suasana nyaman bagi konsumen atau pembeli Sate Klathak.

    Dalam hal ini (1) kebersihan ruangan perlu dijaga (2) penataan barang peralatan di dalam ruangan perlu dijaga kerapiannya (3)  kebersihan Sate Klathak berikut nasi dan lalapan dan pelengkap lainnya perlu senantiasa dijaga (4) keramahan dan murah senyum disertai kata-kata santun perlu diberikan kepada setiap pengunjung (5) kecepatan dalam melayani pembeli atau konsumen perlu senantiasa diperhatikan sehingga mereka merasa penting, dihargai  dan dipentingkan (6) menuruti permintaan konsumen atau pembeli sebatas memungkinkan.

    Dengan demikian setiap pengunjung warung Sate Klathak akan terkondisi untuk fokus menikmati kelezatan klatak dan tidak terganggu hal-hal selain itu. Ini akan membuat pengunjung warung Sate Klathak menjadi pelanggan setia dan mereka dengan suka rela akan merekomemdasi warung ini kepada teman dan kenalan yang ingin menikmati Sate Klathak.

    Pelayanan out door atau pelayanan kepada konsumen ketika baru sampai ke warung sungguh perlu diperhatikan sebaik-baiknya. Mengarahkan para tamu agar menempatkan kendaraan, apa pun kendaraannya, ke tempat parkir yang disediakan dengan tujuan agar kendaraan tamu atau konsumen ini tertata rapi di luar warung. Tujuannya sederhana, agar ketika tamu selesai makan dan membayar harga Sate Klathaknya mereka mudah menemukan kendaraan mereka dan mudah keluar dari lokasi warung Sate Klathak.

    Tentu, sebagaimana pelayanan in door warung maka pelayanan out door warung Sate Klathak ini pun dipenuhi suasana santun, ramah dan bersahabat. Petugas parkir pun perlu mengucapkan terima kasih atas kunjungan para tamu ini. Untuk ini juga perlu dijaga ketelitian tukang parkir ketika ada tamu datang memarkir kendaraan kemudian masuk warung. Apakah kunci mobil atau motor telah dilepas atau belum. Kadang ada pembeli Sate Klathak saking kepingin menikmati Sate Klathak lupa melepas kunci kendaraan. Adalah tugas petugas parkir untuk melepas kunci kendaraan ini dan dengan ramah menyerahkan kepada pemiliknya.

    Hal lain yang termasuk dalam pelayanan prima kepada pengunjung warung adalah menyediakan toilet, WC dan musholla di dekat warung. Pengunjung yang datang dari jauh sangat memerlukan fasilitas ini. Mungkin ketika sampai di warung Sate Klathak mereka belum shalat atau ingin buang air, mereka segera memanfaatkan fasilitas umum ini. Selain itu karyawan warung Sate Klathak juga perlu memberi keleluasaan dan kesempatan kepada pengunjung yang ingin memanfaatkan situasi dan kondisi di luar warung Sate Klathak atau di dalam warung Sate Klathak sebaga lokasi selfie dan melakukan kegiatan potret memotret.

    Mereka pasti menemukan suasana yang unik, instagramable istilahnya, dan menarik untuk didokumentasikan sebagai dokumentasi pribadi atau sebagai bahan untuk dishare kepada kenalan lewat medsos. Yang membuat Sate Klathak makin popular selama ini antara lain jasa pengunjung yang dengan suka rela ngeshare hasil foto atau video singkat ketika mereka berkunjung ke warung Sate Klathak.

    Mereka menambah dengan komentar yang asyik untuk memancing minat kenalan dan memancing komentar siapa saja yang melihat unggahan mereka di medsos. Makin banyak komentar, apalagi komentar kepuasan dan kenyamanan dan keunikan sebuah warung sate klatak, termasuk keramahan dan kecepatan karyawan dalam melayani konsumen makin populer pula sebuah atau beberapa buah warung Sate Klathak Wonokromo.

    Jadi proses pasca poduksi Sate Klathak adalah proses pelayanan kepada konsumen dan proses publikasi berantai yang justru lebih banyak dilakukan oleh para konsumen. Tentu publikasi yang dilakukan oleh pemilik blog, portal online, channel para youtuber dan jurnalis online juga perlu dicermati sebagai proses sosialisasi warung Sate Klathak di dunia maya.

    Advertensi atau iklan spontan dan alami ini sekarang ini tengah berlangsung secara massif dan dunia kuniler menjadi konten yang cukup dominan dalam dunia virtual atau jagad maya yang tengah menjadi dunia mengasyikkan bagi generasi milenial sekarang ini. Oleh karenanya merupakan hal yang perlu dicermati, didukung, diperhatikan dan disimak baik-baik oleh pengelola warung Sate Klathak. Kalau perlu pegelola warung Sate Klathak memiliki dan mengembangkan divisi penyiaran atau publikasi online yang beroperasi secara interaktif. Dengan demikian respon konsumen selalu terpantau dengan seksama.

    Ternyata di dalam dan di luar segala aktivitas persateklatakan terbangun mata rantai ekonomi yang berkesinambungan dengan matarantai komunikasi sosial lewat dunia online, jagad maya dan alam virtual masyarakat kita sekarang ini. Ini yang membedakan dengan kegiatan usaha ekonomi ketika warga masyarakat Wonokromo masih berada episode membuka warung gulai, dengan sate sebagai menu tambahan.

    Ketika warung gulai diubah menjadi warung sate, yang berubah ternyata ekosistem usaha dan atmosfir usahanya. Ini jelas menguntungkan dan bisa dimanfaatkan atau telah termanfaatkan sebagai momentum booming atau momentum akselerasi pertumbuhan warung Sate Klathak Wonokromo itu sendiri.

  • Momentum Booming Sate Klathak

    Momentum Booming Sate Klathak

    Tahun 2000an kuliner asli Nusantara mulai dikampanyekan sebagai bagian dari atraksi wisata. Masakan diwacanakan sebagai kuliner, artinya yang berasal dari dapur. Kuliner asli Nusantara artinya makanan dan masakan yang berasal dari dapur-dapur masyarakat di pelosok Nusantara yang sekarang kita kenal sebagai Indonesia. Aneka macam makanan daerah Indonesia dimunculkan dan dikibarkan sebagai bagian daya tarik wisata.

    Di banyak tempat diadakan pameran atau festival makanan Nusantara. Kadang disertai lomba memasak makanan tradisional. Gambar dan resep makanan daerah muncul dan terpampang di media massa. Para ahli masakan makanan tradisional mendapat tempat terhormat. Mereka dijadikan narasumber pelatihan memasak makanan tradisional dan dijadikan yuri lomba masak memasak makanan tradisional. Masyarakat Indonesia pun menjadi melek kuliner, menghargai keterampilan leluhur dalam hal masak memasak makanan tradisional yang amat lezat.

    Lalu muncul aktor atau pelaku kampanye tentang penting dan lezatnya masakan leluhur kita. Dia di kemudian hari dijuluki sebagai pahlawan kuliner daerah di Indonesia. Ya, pada tahun-tahun ini muncul seorang Bondan Winarno yang getol mempopulerkan masakan daerah yang kelezatannya tidak kalah dengan masakan internasional. Sebagai salah seorang pemimpin koran terkemuka, Sinar Harapan, Bondan membuka rubrik Jalan Sutera yang berisi ulasan tentang makanan daerah Indonesia dengan bahasa yang mudah dipahami dan dengan gaya bertutur yang enak.

    Kuliner khas Nusantara pun menjadi dikenal kembali oleh masyarakat Indonesia sebagai kekayaan budaya yang layak dilestarikan dan layak ditampilkan di tempat terhormat. Apalagi Bondan Winarno dengan program tayangan televisi yang dikenal dengan Jurus Maknyus menjadi tontonan wajib mingguan bagi masyarakat Indonesia. Mereka tertarik dengan tayangan itu karena ingin mengenal kembali makanan daerah yang tempatnya dijadikan obyek kunjungan Bondan Winaro dan makanan khasnya dijadikan obyek bahasan dalam tayangan itu. Bondan yang dikenal sebagai jago mencicipi makanan, ahli masak dan mengenal hampir semua hal karena dia adalah jurnalis andal.

    Selain Maknyus yang kemudian ditafsirkan oleh masyarakat sebagai label masakan berkualitas dan lezat, Bondan juga mengenalkan istilah nendang untuk masakan yang bumbunya jelas dan terasa di lidah. Apa yang ditampilkan Bondan menjadi topik menarik dalam perbincangan sehari-hari di masyarakat. Masyarakat pun berbondong mencicipi masakan yang ditampilkan dalam acara jelajah kuliner ini. Masakan atau makanan yang sudah mendapat komentar Maknyus kontan menjadi laris. Potret dia pun dipasang pada dinding restoran atau rumah makan yang telah dia kunjungi.

    Bondang Winarno muncul sebagai public figure, spesialis makanan dan kuliner daerah Nusantara. Dalam hal ini dia juga muncul sebagai motivator bagi peningkatan kualitas masakan tradisional di mana-mana. Sebab setiap pemilik restoran atau warung dengan masakan ini khas betul betul melakukan upaya serius untuk menjaga kualitas masakan yang disajikan dan menjaga kelezatan masakannya. Karena begitu mendapat label Maknyus dari Bondan Winarno dipastikan warung atau restoran ini laris manis dan pengunjung atau konsumennya ingin merasakan kelezatan dan kekhasan warung dan restoran itu sebagaimana Bondan datang dan menikmti masakan yang disajikan dan dijual di tempat itu.

    Para pemilik warung atau restoran tentu tidak mau mengecewakan konsumen yang membanjiri warung atau restorannya.

    Banyak kota dia kunjungi, banyak pelosok tanah air dia datangi hanya untuk mengenal dan mengenalkan masakan daerah yang memang bisa menghanyutkan lidah. Ulasan tentang pengalamannya mencicipi dan menikmati banyak makanan daerah yang lezat ini kemudian dikumpulkan dan diterbitkan menjadi buku tentang seratus masakan istimewa Nusantara.

    Salah satu makanan yang khas yang dia kenalkan adalah Sate Klathak Wonokromo. Sate yang unik dari segi rasa dan bentuk penampilannya. Rupanya Bondan Nusantara pernah ke Wonokromo, menikmati Sate Klathak, memotretnya dan mengulas pengalaman menikmati lezatnya sate klatak.

    Sate Klathak Wonokromo makin berkibar di blantika kuliner Indonesia. Lokasi penjual Sate Klathak Wonokromo pun ditandai sebagai lokasi yang istilahnya recomended untuk didatangi oleh wisatawan dan tamu Yogyakarta. Penjual Sate Klathak tumbuh pesat. Anak cucu, buyut dan cucu keponakan penjual sate klatak yang termasuk anggota Bani Ambyah berjumlah 15 orang. Mereka terkenal semua dan ada lima yang lebih terkenal dan laris.

    Warga Wonokromo mudah mendapat peluang kerja di usaha Sate Klathak ini. Dan mereka yang berpengalaman menjadi karyawan perusahaan Sate Klathak yang terkenal lezat pun kemudian ada yang mendirikan usaha warung Sate Klathak.

    Lokasi usaha Sate Klathak di jalan Imogiri Timur Yogyakata pun makin ramai dengan hadirnya penjual Sate Klathak generasi baru ini. Jiwa usahawan pun tumbuh subur di masyaraat Wonokromo dan ini semua berkat hadirnya Sate Klathak yang ditemukan dan diwariskan ilmunya oleh Mbah Ambyah, warga Jejeran Wonokromo.

    Kemudian, terjadilah booming sate klatak Wonokromo yang bermakna dan signifikan setelah warung Sate Klathak Pak Bari yang lokasi berjualannya di tengah pasar Wonokromo.

    Warung sate dia buka mulai siang sampai tengah malam, dijadikan lokasi syuting film Ada Apa Dengan Cinta 2. Rangga (Nicholas Saputra) dan Cinta (Dian Sastrowardoyo) yang menjadi pelaku utama film besutan sutradara Rudi Sudjarwo bersama produser film Mira Lesmana ini memerankan adegan dinner di tempat Pak Bari yang menjual Sate Klathak di tengah pasar Wonokromo. Ini terjadi di tahun 2014.

    Pak Bari menjadi bahagia, merasa beruntung dan bersyukur karena lokasi jualan Sate Klataknya dijadikan lokasi syuting film keren yang ditonton jutaan anak muda itu. Mengapa? Karena setelah syuting film itu, tempat penjualan Sate Klathak Pak Bari menjadi viral dan dicari orang.

    Jumlah pembeli Sate Klathak menjadi berlipat jumlahnya. Kalau sebelum ada film itu paling dalam sehari dia memotong dua ekor kambing untuk dijadikan Sate Klathak, setelah ada syuting film itu dia bisa memotong sepuluh ekor kambing untuk persediaan bahan Sate Klathak.

    Dalam sehari daging sepuluh ekor kambing ini habis dibeli konsumen saat dimasak menjadi Sate Klathak. Tentu dilengkapi dengan variasi tambahan menu lain masakan berbahan daging kambing. Seperti kronyos dan sate goreng.

    Penjual Sate Klathak yang terbilang sukses, Pak Pong, yang punya tiga lokasi usaha dan seratus karyawan, sehari bisa memotong tigapuluh lima ekor kambing. Bayangkan, kalau daging satu ekor kambing rata-rata bisa dijadikan 300 tusuk Sate Klathak, berapa ribu jumlah total Sate Klathak yang dia jual kepada pembeli yang memadati warungnya. Karyawan dia bisa hidup sejahtera, mendapat gaji yang ditransfer pada rekening masing-masing karyawan.

    Untuk penjual Sate Klathak yang masih merintis usaha yang generasi berikut dari keturunan Mbah Ambyah bernama Mas Handy misalnya, sudah mampu menghabiskan satu sampai dua ekor kambing untuk dipotong dan dagingnya dijadikan bahan pembuatan Sate Klathak. Penjual sate lainnya yang mulai terkenal, bisa memotong kambing yang jumlahnya di bawah jumlah kambing yang dipotong oleh Pak Pong dan Pak Bari. Ini untuk setiap hari.

    Bayangkan kebutuhan daging kambing atau kambing potong sebagai bahan baku syate Klathak Wonokromo setiap bulannya.

    Di tengah booming Sate Klathak ini atau ketika Sate Klathak makin popular di masyarakat Bantul, masyarakat Yogyakarta dan masyarakat Indonesia, maka penjual sate yang biasanya menjual sate bumbu pun melengkapi menunya dengan Sate Klathak.

    Di semua lokasi kabupaten kota DIY sekarang mudah ditemukan Sate Klathak. Demikian juga di banyak kota di Jawa dan luar Jawa. Para penggemar Sate Klathak memang merasa afdol kalau mereka bisa membeli Sate Klathak di Wonokromo Pleret Yogyakata. Akan tetapi kalau rindu pada Sate Klathak tidak tertahan lagi, mereka bisa membeli Sate Klathak di dekat tempat kediamannya.