Tag: Sate Klathak Wonokromo

Sate Klathak Wonokromo Rekomendasi Sate Klathak Jogja Terenak

  • Sate Klathak Jejeran Wonokromo

    Sate Klathak Jejeran Wonokromo

    Prolog

    Sate Klathak Wonokromo, Selalu ada kabar gembira berasal dari kepulan asap, bunyi kratak-kratak dan bau gurih daging kambing muda tanpa lemak yang terbakar. Tukang sate yang tengah mengipas anglo tanah liat atau tempat pembakaran, berwajah cerah. Sebab setiap tusuk sate yang penusuknya terdiri dari deruji sepeda berarti rupiah. Setiap beberapa tusuk daging kambing matang atau setengah matang disajikan ke pembeli yang tengah bermimpi merasakan lezatnya hidangan sate, berarti jumlah rupiah makin bertambah.

    Sebenarnya bukan semata jumlah rupiah yang makin bertambah, menyusul susutnya persediaan daging kambing yang telah diiris rapi siap ditusuk dan dibakar, tetapi melimpahnya rasa syukur kepada Tuhan oleh penjual Sate Klathak Wonokromo karena telah melahirkan dan mengutus hambanya bernama Mbah Ambyah yang telah merintis usaha Sate Klathak sejak tahun 1940. Ketika ilmu memanggang Sate Klathak yang dimiliki Mbah Ambyah kemudian diturunkan kepada anak cucu, buyut dan cicitnya melahirkan puluhan penjual Sate Klathak di sepanjang jalan Imogiri Timur Yogyakarta, merambah ke jalan Jejeran menuju Stadion Sultan Agung dan lokasi lain, maka yang sesungguhnya terjadi adalah Mbah Ambyah telah mewariskan amal jariyah yang pahalanya tidak terputus menyirami kubur Mbah Amyah dengan berokah dan pahala keutamaan. Mbah Ambyah dan isterinya, menurut catatan keluarga, memiliki banyak anak. Merekalah yang melestarikan Sate Klathak bersama dengan warga desa yang kemudian tertarik membuka warung Sate Klathak menjaga amal jariyah ekonomi sehingga makin lama Sate Klathak makin terkenal, menasional bahkan bisa mendunia. Semoga demikianlah adanya, Aamin.

    Persoalan barokah dan amal jariyah yang mengalir pada diri Mbah Ambyah dan kemudian mengalir kepada anak keturunannya, bahkan kepada para tetangga serta kenalan yang bergelut dengan Sate Klathak ini penting untuk disebut. Sebab pada masyarakat mutakhir seperti sekarang ini, dalam kehidupan sehari-hari yang serba rasional dan teknologis manusia hanya berpikir tentang manfaat, nikmat dan profit atau yang dalam bahasa Jawa disebut bathi. Sesuatu yang ada di balik manfaat, nikmat, profit jarang disebut dan disadari adanya. Mereka hanya memburu manfaat (ekonomi), memburu nikmat (lidah dan tubuh) dan profit atau keuntungan duniawi. Mereka kehilangan hubungan dengan apa yang disebut pahala, nilai barokah dan makna dari tindakan dan perbuatanya. Seorang kiai yang sekaligus seorang wali dari Wonokromo pernah berkata bahwa segala sesuatu kalau dikemonah atau dimenej dengan baik akan mbarokahi dan ngrejekeni, termasuk Sate Klathak yang kalau dimenej dengan baik juga akan mbarokahi dan ngrejekeni.

    Dalam konteks makin ramainya pasar kuliner dan pasar wisata yang menjadikan Sate Klathak Wonokromo menjadi primadona, insya Allah yang terjadi adalah tetap hadirnya semangat ibadah para penjual sate sebagai bagian dari ekspresi beragama yang dewasa. Para aktivis Sate Klathak Wonokromo insya Allah tetap menyadari, memahami dan bersyukur dengan hadirnya barokah yang menghasilkan keutamaan rejeki dan amal jariyah yang menghasilkan mata rantai pahala ketika mereka beraktivitas mulai memilih kambing muda, menyembelih, menguliti, memilih daging tanpa lemak dan mengiris dengan format lebih besar dari irisan sate daging biasa, kemudian menusuknya dengan jeruji sepeda, membumbui dengan garam, menyalakan arang dan mulai memanggang daging kambing itu. Sementaa pembantunya, memasak sayur santan encer untuk penyedap, memasak nasi, dan menyiapkan kecap, serbuk mrica, irisan brambang dan lombok disajikan bagi yang memerlukan. Menjerang air untuk disedu menjadi wedang teh, menyiapkan gula batu dan jeruk, tidak lupa membersihkan kaleng kerupuk. Mereka juga menyadari apa yang mereka lakukan adalah ibadah, ibadah muamalah sehari-hari.

    Kegiatan menjual Sate Klathak kemudian terasa betul-betul mbarokahi dan ngrejekeni ketika sebagian dari hasil penjualan Sate Klathak dialirkan ke masyarakat dalam bentuk amal sosial dan untuk membiayai kegiatan keagamaan, termasuk pengajian dan kegiatan relijius kultural khas Wonokromo.

    Matarantai manfaat dan matarantai pahala ini yang kemudian secara fungsional terbentuk pada saat menjual Sate Klathak dan saat pasca penjualan Sate Klathak berlangsung.

    Dalam suasana dan ekosistem usaha Sate Klathak yang demikian, yang hidup dan disadari bukan hanya soal harga Sate Klathak yang diukur dari banyaknya rupiah yang masuk ke dompet aktivis Sate Klathak, tetapi juga disadari dan dipentingkannya soal nilai. Nilai sebuah usaha Sate Klathak bagi kesejahteraan warga Wonokromo dan bagi warga masyarakat pada umumnya. Termasuk nilai kesehatan.

    Selain itu juga hadir makna-makna utama kehidupan yang menyertai. Antara lain makna relijius bahwa yang dilakukan oleh penjual Sate Klathak dan keluarganya sesungguhnya tengah ‘mengkholifahi’ kambing dan bumi. Ini merupakan tugas kemanusiaan sejak Nabi Adam turun ke bumi. Memakmurkan bumi dengan mendayagunakan para peternak kambing, petani padi, pemanjat kelapa, pembuat garam, petani sayur dan bumbu, pembuat anglo, pembuat arang, pembuat kipas bambu yang ada di desa-desa. Mereka tengah menjalankan tugas kehidupan sebagaimana dinarasikan dalam kitab suci Al Qur’an surat An Nahl bahwa binatang ternak (al an’am) bisa diambil manfaatnya menjadi kendaraan, diambil manfaat susunya, dimakan dagingnya dan dipergunakan untuk keperluan lain bulu-bulu dan kulitnya.

    Dalam hal ini, masyarakat santri seperti masyarakat Wonokromo  memilih makanan bergizi termasuk memilih kambing untuk dijadikan sate, tentu juga dijadikan gulai dan tongseng jeroan dan bagian tubuh kambing lainnya adalah bagian dari mengamalkan ayat suci Al Qur’an. Dalam surat ‘Abasa disebutkan bahwa hendaknya manusia memperhatikan dan menalar apa yang mereka makan. Apalagi ayat-ayat awal pada surat Al Maidah (al maidah artinya hidangan) disebutkan perlunya manusia memperhatikan kehalalan makanannya. Dalam bagian awal surat Al Isra’ malah disebutkan bahwa menyebut nama Allah saat menyembelih hewan ternak adalah wajib untuk membuat statusnya menjadi halal. Di dalam ayat itu disebutkan bahwa menyembelih hewan ternak dengan menyabut nama selain Allah membuat daging hasil penyembelihannya menjadi haram. Tentu dalam hal ini para penjual Sate Klathak Wonokromo ketika menyembelih kambing disertai doa dengan menyebut nama Allah subhanahu wa ta’ala.

    Dengan demikian sesungguhnya satu tusuk Sate Klathak pada hakekatnya bukan sekadar benda ekonomi dan benda bergizi secara kesehatan saja, akan tetapi satu tusuk Sate Klathak memiliki nilai sebagai benda spiritual, dan memiliki makna bahkan posisi dalam kehidupan yang lebih luas dan lebih mendalam dan lebih tinggi dibanding itu. Satu tusuk Sate Klathak, apalagi kalau banyak tusuk atau ribuan tusuk seperti yang pernah disajikan oleh Fakultas Peternakan UGM ketika memperoleh Penghargaan MURI pada tahun-tahun sebelum pandemi, memiliki nilai budaya yang tinggi dan bermakna sosial secara luas serta berada pada posisi terhormat pada kehidupan manusia. Oleh karena itu wajar kalau Sate Klathak mendapat pengakuan dan penghargaan dari Pemerintah sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia tahun 2019.

    Tentu pengakuan dan penghargaan ini membuat masyarakat Wonokromo Pleret Bantul pada umumnya dan para aktivis Sate Klathak pada khususnya makin mantap, bersemangat, makin percaya diri dan makin giat dalam beraktivitas memasak Sate Klathak dan mendukung usaha Sate Klathak yang ilmu pembuatan Sate Klathak ini diturunkan atau diwariskan oleh Mbah Ambyah.

    Masyarakat Wonokromo perlu mensyukuri hal ini karena Sate Klathak merupakan menu kuliner andalan pada pengembangan wisata di Kabupaten Bantul dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Gerakan mempopulerkan Sate Klathak dan gerakan nyate klataknya sendiri saat berkunjung ke lokasi wisata di Bantul perlu didukung ramai-ramai. Tentu, dengan tetap menjaga kelezatannya yang sulit ditandingi.

    Lantas bagaimana tradisi makan daging dalam masyarakat Jawa, pernik sejarah, dan sisi teknis, serta pengembangan pasar sate klatak, serta prospek sate klatak itu sendiri di masa depan? Uraiannya ada pada bagian selanjutnya dari buku ini.

     

    Epilog

    Usaha Sate Klathak Wonokromo bisa disebut usaha yang produktif bahkan sangat produktif karena merupakan produk komunal.

    Komunalitas atau keguyuban serta kerukunan masyarakat Wonokromo menjadi fondasi bagi suksesnya usaha Sate Klathak selama ini.

    Bayangkan, pengusaha inti Sate Klathak Wonokromo masih berada dalam jaringan persaudaraan Bani Ambyah. Mbah Ambyah memiliki anak bernama Murtijan, Wakidi, Jazim Zabidi, Dalbi san Jaelani. Muncul generasi anak, cucu kerabat Mbah Ambyah seperti Hasimi, Pak Jam, Pak Darusalam, Pak Jupaeni, Pak Baru, Pak Jono, Mak Adi, Pak Pong, dan masih banyak lagi, Pengusaha Sate Klathak yang tumbuh berikutnya masih punya relasi yang dekat dengan pengusaha inti Sate Klathak ini.

    Relasi sosial dan relasi kultural, bukan sekadar relasi ekonomi komersial yang selama ini terbangun membuat mereka memiliki semangat dan visi yang sama, memajukan dan meningkatkan usaha Sate Klathak yang merupakan warisan budaya tak benda leluhur mereka. Di antara pengusaha Sate Klathak ini terjalin silaturahmi dan ukhuwah yang erat dan dalam praktek mereka saling bantu membantu. Orang yang baru merintis usaha Sate Klathak dengan modal minim dibantu untuk memperoleh dua sampil kambing yang mereka pajang di warung Sate Klathak yang baru ini.

    Pembeli yang tertarik datang ke warung ini, kemudian merasakan kelezatan Sate Klathaknya bisa menjadi pelanggan tetap. Dan makin banyak pelanggan yang mengunjungi warung Sate Klathak ini berarti makin lama usaha Sate Klathak ini makin maju dan siap menyiapkan stok daging kambing segar satu dua ekor. Demikian seterusnya yang terjadi.

    Usaha mencatat, mendokumentasikan dan menampilkan kembali sejarah perkembangan Sate Klathak yang berbasis tradisi makan daging orang Jawa yang dibangun dari alur bangsawan kerajaan dan jaringan ulama wali sampai kiai desa sangat diperlukan. Pengaruh dari pasang naik dunia pariwisata yang menjadikan kuliner sebagai ikon dan primadona wisata serta percepatan dari mobilitas ide dan informasi tentang Sate Klathak melalui media digital juga perlu diperhitungkan. Pada konten tentang Sate Klathak di media digital maupun media cetak inilah sesungguhnya proses dokumentasi yang terus menerus terjadi. Dan konten media tentang Sate Klathak ini sekarang sudah melimpah ruah, dalam bentuk yang terserak-serak dan belum dihimpun atau dibundeli dalam naskah dengan narasi dan konstruksi yang utuh dan komprehensif.

    Sebuah buku tentang Sate Klathak bisa berfungsi sebagai himpunan dan bundelan informasi tentang Sate Klathak dengan narasi dan deskrispi yang utuh dan komprehensif. Semua ini dilakukan dalam konteks bersyukur agar dengan bersyukur, Tuhan akan terus menambah karunia-karuniaNya pada bumi dan masyarakat Wonokromo, Yogyakarta dan Indonesia. Semoga demikianlah adanya. Aamin.

    Penyusunan buku Kitab Mustika Rasa Sate Klatak Wonokromo ini baru merupakan langkah awal dalam menjaring wawasan, kesadaran, sejarah dan makna kehadiran Sate Klathak di Wonokromo dan sekitarnya. Isinya merupakan narasi trend penting perkembangan Sate Klathak Wonokromo dengan menampilkan banyak spot sejarah, pengalaman, dan kemungkinan masa depan Sate Klathak.

    Penyusunan buku ini berdasarkan riset sederhana atas konten media online dan media offline diperkaya pengalaman menikmati sate di Yogyakarta serta menikmati Sate Klathak di Wonokromo, diperkuat dengan analisis yang bersifat kualitatif.

    Dalam studi agama, pendekatan yang dipergunakan untuk memahami dan merumuskan masalah dalam usaha dan gerakan Sate Klathak Wonokromo ini bisa disebut semacam ‘pendekatan irfani’ yang lebih menyentuh makna dan hakekat peristiwa di balik seluk beluk dan dinamika usaha Sate Klathak di Wonokromo selama ini, kemudian mengkorfirmasi gejalanya pada ayat-ayat di dalam kitab suci.

    Dalam pandangan hidup orang Jawa yang mendalami ajaran agama Islam, kenyataan sehari-hari disebut Jagat kang gumelar dan ayat kitab suci disebut Jagad kang gumulung.

    Dialog bolak-balik dua jagad atau arah pemahaman yang bolak balik atas dua jagad itulah yang hasilnya ditulis dalam “Kitab Mustika Rasa Sate Klatak” ini.

  • Gerakan Sate Klathak dan Maknanya

    Gerakan Sate Klathak dan Maknanya

    Sate Klathak Wonokromo, Gerakan Sate Klathak di Wonokromo tumbuh dan berasal dari masyarakat, oleh masyarakat, bersama masyarakat Wonokomo dan sekitarnya untuk masyarakat Wonokromo, Yogyakarta dan Indonesia. Yang dimaksud dengan gerakan Sate Klathak disini adalah tumbuh dan bergeraknya kesadaran bersama untuk mendukung dan mengembangkan Sate Klathak sesuai dengan peran dan fungsinya masing-masing.

    Para juragan Sate Klathak mengontrol dan mengendalikan kegiatan pra produksi, saat produksi dan pasca produksi Sate Klathak.  Para karyawan usaha sate klatak bekerja secara optimal dan profesional di posisi manapun dalam unit kerja usaha Sate Klathak.

    Para pemasok kambing, beras, bumbu, deruji sepeda, pemasok arang, plastik dan kertas pembungkus, sabun pencuci piring dan pernik-pernik kebutuhan usaha Sate Klathak memasok barang yang berkualitas prima dengan harga pantas kepada pengusaha Sate Klathak.

    Para konsumen atau pembeli tugasnya hanya tiga, (1) menikmati Sate Klathak, (2) membayar harga Sate Klathak dengan wajar dan (3) memberi komentar atas pengalamannya nyate klatak di Wonokromo.

    Pihak yang secara sukarela menjadi komunikator online atau offline juga melakukan kegiatannya dengan rasa suka cita dengan hasil atau produk media sesuai cita-cita.

    Aparat pemerintah setempat, dalam hal ini Pemerintah Kelurahan Wonokromo dan instansi terkait membina dan membuka peluang seluas-luasnya bagi pengembangan usaha Sate Klathak.

    Gerakan Sate Klathak yang muncul dari inisiatif masyarakat lokal ini, uniknya, menggunakan pola partisipasi, bukan mobilisasi. Dengan demikian gerakan ini tumbuh relatif natural dan bisa dengan cepat menyesuaikan diri dengan perkembangan dan perubahan zaman, termasuk pesatnya dunia pariwisata yang tumbuh, berubah dan bergerak di Wonokromo, Bantul, Yogyakarta dan Indonesia.

    Perkembangan dan perubahan cepat industri informasi digital cukup memberi pengaruh signifikan bagi pesatnya gerakan Sate Klathak Wonokromo. Terjadi proses pencitraan positif Sate Klathak yang terus menerus setiap saat di dunia maya.

    Profil juragan sate klatak yang rendah hati dan dermawan, profil karyawan yang ramah dan cepat melayani konsumen dengan tetap menjaga kualitas rasa lezat satenya, profil Sate Klathak sendiri sebagai entitas kuliner terkemuka di Wonokromo, Bantul dan Yogyakarta, dan narasi tentang lezatnya Sate Klathak dalam suasana desa yang tenang dan sejuk muncul dalam pemberitaan formal dan informal di media cetak dan di media digital.

    Mereka yang terlibat dalam gerakan Sate Klathak ini makin hari makin tidak bisa dihitung jumlahnya karena setiap hari bertambah pesertanya. Bahkan dalam setiap jam atau setiap detik muncul dan hadir para peserta gerakan Sate Klathak.

    Sudah berapa ribu atau berapa ratus ribu kambing muda yang dipasok ke Wonokromo? Ini melibatkan berapa puluh atau pemasok dan berapa ratus peternak? Tidak ada yang tahu. Sudah berapa kwintal atau ton arang yang dipasok ke Wonokromo juga sulit dihitung jumlahnya. Berapa kilogram, berapa kwintal atau malahan berapa ton garam sebagai bumbu tunggal Sate Klathak yang masuk Wonokromo, belum ada yang menghitung dan meneliti. Berapa kwintal atau ton gula batu yang selama ini menemani Sate Klathak dalam bentuk minuman teh manis? Belum ada yang sempat menghitung.

    Kalau pengusaha Sate Klathak sukses seperti Pak Pong dibantu seratus karyawan dalam usahanya menjual Sate Klathak dan penjual Sate Klathak yang masih dalam merintis usaha paling tidak dibantu dua orang, maka dalam sehari produksi Sate Klathak di puluhan warung sate berapa ratus jiwa yang kehidupannya ditanggung oleh seluruh usaha Sate Klathak?

    Sungguh sangat bermakna usaha Sate Klathak ini secara ekonomi dan secara kemanusiaan bagi warga Wonokromo dan sekitarnya.

    Tersedianya kesempatan kerja, terbukanya kemungkinan mereka yang memperoleh manfaat dari usaha sate klatak untuk membiayai pendidikan anak-anak mereka dan membiayai kesehatan mereka serta terbangunnya suasana kerjasama dan kolaborasi banyak pihak menunjukkan kalau usaha Sate Klathak memiliki makna kultural dan makna kesejahteraan yang layak diperhitungkan.

    Gerakan Sate Klathak Wonokromo ini cukup menginspirasi kelompok masyarakat di luar Wonokromo bahwa setiap usaha yang digali berdasar potensi lokal memiliki peluang untuk dikembangkan secara maksimal dengan hasil yang dalam bahasa Jawanya murakabi marang kabehane. Murakabi dalam arti ngrejekeni lan mbarokahi secara terus menerus. Dalam konteks ini kejeniusan Mbah Ambyah dan kreativitas para penerusnya patut diberi apresiasi.

    Salah satu bentuk apresiasi yang diberikan oleh Pemerintah melalui Mendikbud adalah memberi pengakuan bahwa Sate Klathak Wonokromo merupakan Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) yang amat berharga bagi masyarakat dan bangsa sehingga perlu senantiasa dilestarikan, dimanfaatkan dan dikembangkan keberadaannya.

  • Kejeniusan Mbah Ambyah dan Kreativitas Penerusnya

    Kejeniusan Mbah Ambyah dan Kreativitas Penerusnya

    Sate Klathak Wonokromo, Mbah Ambyah, aslinya bernama Hamzah, adalah manusia jenius dari Jejeran Wonokromo sedang para penerusnya adalah manusia kreatif yang bertebaran warungnya di sepanjang jalan Imogiri Timur Yogyakarta dan sekitarnya. Sebagai manusia jenius Mbah Ambyah mampu membuat terobosan budaya, dalam hal ini terobosan kuliner yang berarti dan bermakna bagi masa depan sate kambing.

    Ada kemungkinan waktu itu, sekitar tahun 1940 Mbah Ambyah gelisah ketika merasakan dan menyaksikan usaha menjual sate kambing biasa sebagai bisnis dan jumlah konsumen sate kambing biasa, sebagai pasar sate, seperti mengalami kemandekan. Pembeli sate kambing memang ada dan sate kambing tetap laku, tetapi belum menjadi sesuatu yang lebih dari makanan tradisional belaka.

    Arus suplai hewan kambing ke para penjual sate kambing pun berjalan lamban, kegiatan beternak kambing dan kegiatan berdagang kambing menjadi kegiatan biasa-biasa saja. Irama bisnisnya mirip musik yang lemah lembut, membuat orang atau generasi muda kurang tertarik untuk menekuninya. Apalagi waktu itu posisi sate kambing masih berada di bawah bayang-bayang gulai kambing.

    Mbah Ambyah lantas menginginkan perubahan, bertumpu pada langkah terobosan pada dunia persatean kambing ini. Dia merenung saat melihat ternak kambingnya makin banyak. Mbah Ambyah saat berjualan gulai dan sate kambing juga merenungkan hal ini. Ia berfikir, masakan gulai sudah mapan dan sulit diinovasi. Sulit diubah. Kalau sate masih memungkinkan ada inovasi. Dan inovasi berarti perubahan. Demikian pikir Mbah Ambyah. Tetapi berubah seperti apa yang bisa membuat sate kambing lepas dari bayang-bayang gulai kambing, bisa berdiri sendiri atau tampil menjadi sajian utama, dengan tetap disertai gulai dan tongseng?

    Mbah Ambyah fokus memikirkan sate. Sate. Sate. Sate kambing. Sate kambing rasa baru dan penampilan baru!

    Ia memperhatikan sate kambing bumbu kecap. Sate biasa. Ia perhatikan tusuk demi tusuk sate kambing yang ditusuk dengan bilah bambu kecil. Saat ada pembeli sate dan gulai datang dia layani dengan sebaik-baiknya. Saat pembeli pergi Mbah Ambyah melanjutkan renungannya. Ia membayangkan sate kambing, sate bumbu yang kadang terlalu banyak bumbunya. Yang lebih terasa justru bumbunya. Sementara itu rasa daging kambingnya justru tenggelam di bawah rasa bumbu.

    Nah, ini yang agaknya selama itu kurang disadari oleh penjual sate dan pembeli sate kambing. Rasa daging kambing yang berkurang karena bumbu terlalu banyak.

    Byar! Muncul gagasan cemerlang di kepala Mbah Ambyah. Rasa daging kambing harus dimunculkan kembali agar orang yang memakan sate kambing betul-betul merasakan daging kambing. Bukan merasakan bumbu. Berarti bumbunya harus disederhanakan. Sate kambing tanpa bumbu sama sekali? Juga tidak mungkin. Rasanya bisa hambar.

    Mbah Ambyah menemukan gagasan untuk tetap membakar sate tetapi dengan bumbu minimal.  Penampilan sate sederhana, tetap dengan memunculkan rasa daging kambing yang utama. Bumbunya? Yang paling mudah dan paling tidak mengganggu rasa daging kambing adalah garam. Ya, garam justru bisa memunculkan rasa gurih dari daging kambing.

    Hari itu ketika dagangan gulai dan sate kambing dia habis, Mbah Ambyah pulang. Sesampai di rumah dia makin mantap untuk membuat eksperimen atau percobaan untuk membuat sate kambing tanpa bumbu. Hanya diberi garam saja. Gagasan ini dia sampaikan kepada keluarga. Mereka heran dan tidak bisa membayangkan seperti apa rasa sate kambing tanpa bumbu dan hanya diberi garam saja.

    Ada yang bilang, wah Mbah Ambyah reko-reko. Mbah Ambyah membantah, dia tidak reko-reko tetapi ingin melakukan terobosan dalam hal memasak sate.

    “Mengapa bumbunya tunggal Pak? Hanya garam saja?”  tanya anggota keluarga.

    “Biar sederhana dan rasa daging kambingnya bisa muncul dengan leluasa.”

    Tekad Mbah Ambyah tidak bisa dibendung lagi. Pada keesokan harinya, sebelum dia berangkat ke tempat penjualan gulai dan sate, dia menyalakan arang. Ketika arang telah membara dan menyala dia ambil tusukan daging yang siap dipanggang. Dia pasang daging kambing di atas arang lalu dia taburi garam krosok. Terdengar bunyi kratak-kratak karena garam terkena jilatan api dan panasnya bara. Daging kambing tampak memutih. Dia bolak balik lama sampai agak gosong. Sate model baru diangkat dan dia cicipi bersama anggota keluarga. Benar rasa gurih, lezatnya daging kambing muncul. Tetapi karena untuk membuat empuk daging diperlukan waktu yang agak lama, maka muncul gosong di beberapa tempat, yang ini pasti kurang disukai pembeli.

    Hari itu Mbah Ambyah belum berani menawarkan sate model baru kepada pembeli. Sebab masih belum sempurna penampilan dan rasanya. Dia hari itu tetap menjual gulai kambing dan sate kambing biasa seperti hari sebelumnya.

    Di waktu luang karena tidak ada pembeli, Mbah Ambyah menggerakkan otaknya. Mencari pemecahan agar sate model baru tetap matang, empuk tetapi tidak gosong.

    Byar! Byar! Muncul pikiran baru. Pikiran baru Mbah Ambyah mengatakan bahwa harus ada pemanasan dari dalam daging sate kambing itu sendiri. Tusuk sate dari bambu tidak bisa dipergunakan untuk itu karena bambu bukan penghantar panas. Lantas apa benda yang bisa menjadi penghantar panas maksimal? Tentu besi. Mbah Ambyah tersenyum menemukan jawabnya.

    Lantas besi macam apa yang bisa dijadikan penusuk daging kambing untuk dipanggang menjadi sate?

    Jeruji. Jeruji sepeda bisa. Ini yang perlu dicoba, demikian pikir Mbah Ambyah. Sepulang dari tempat berjualan gulai dan sate kambing, Mbah Ambyah mampir ke tempat bengkel sepeda.

    “Ada jeruji sepeda Kang?”

    “Ada. Yang lama atau yang baru?”

    “Yang baru.”

    “Mau beli?”

    “Ya.”

    “Untuk apa?”

    Mbah Ambyah hanya tersenyum sambil mengeluarkan uang untuk membeli jeruji sepeda itu. Ia pun cepat-cepat pamit pulang.

    Sesampai di rumah, jeruji sepeda dia cuci. Dia mengambil persediaan daging kambing yang memang dia siapkan sebelum berangkat berjualan, Daging kambing dia iris dengan potongan lebih besar dibanding dengan irisan untuk sate bumbu biasa. Mbah Ambyah menyalakan anglo dan menusuk daging kambing yang sudah dipotong-potong itu dengan jeruji sepeda. Ketika arang di anglo sudah membara dan menyala, dia menaburkan garam ke atas potongan daging kambing. Kembali terdengar bunyi kratak-kratak yang indah di telinga.

    Jeruji sepeda yang menjadi penusuk sate itu cepat menjadi panas dan menghantarkan panas dari dalam dengan cepat bisa membuat daging itu empuk tanpa harus gosong. Wajah Mbah Ambyah berseri ketika satu persatu sate itu mulai matang dan empuk. Dia mengajak anggota keluarga makan bersama dengan lauk sate kambing model baru.  Dengan penuh minat anggota keluarga menikmati sate kambing model baru.

    Isterinya merasa ada yang kurang. “Pak kalau tanpa kuah rasanya seret ini,” katanya.

    “Ya, makan nasi dengan lauk sate gurih seperti ini perlu dilengkapi kuah,” jawab Mbah Ambyah membenarkan kata isteri.

    “Seperti sate Ambal itu Pak, sate ayamnya dilengkapi sayur tempe berkuah. Sate kita ini perlu dilengkapi sayur kuah juga Pak,” sahut anaknya.

    Mbah Ambyah pergi ke dapur. Menyenduk kuah gulai kambing di kuali lalu dia tuang ke sebuah panci.

    “Untuk sementara pakai ini dulu. Besuk saya buatkan sayur kuah yang lebih encer,” kata Mbah Ambyah.

    Nasi putih dibasahi dengan kuah gulai kambing. Mereka melanjutkan makan dengan lahap.

    Tiba-tiba Mbah Ambyah nyeletuk,”Wah kita memerlukan minum, apa ya?”

    “Teh panas yang terbuat dari dekokan teh cap Pecut masih panas karena tekonya terlindung tekosi. Diberi potongan gula batu,” kata isteri Mbah Ambyah menuju dapur mengambil cangkir, lalu teko teh panas dan potongan gula batu, komplet,

    Keluarga Mbah Ambyah menyelesaikan makan bersama dengan puas. Rasa sate baru ini pas kalau nasinya diberi kuah dan dilengkapi minuman teh manis. Waktu itu untuk menyimpan panas teh dalam teko, tekonya diselubungi tekosi, tutup teko yang terbuat dari kain yang diberi kapuk di dalamnya, seperti bantal yang berlubang.

    Hari berikutnya Mbah Ambyah mulai menjual sate kambing gaya baru di tempat dia biasa berjualan. Dia juga menyiapkan sayur kuah encer. Isterinya membawa perlengkapan minum teh, lengkap dengan cangkir dan gula batu. Para pembeli yang datang mula-mula heran dan ragu ketika ditawari untuk mencicipi sate yang hanya diberi bumbu tunggal, garam. Nasinya dilengkapi kuah encer.

    “Coba saja, enak kok. Rasa gurih daging kambingnya terasa,” Mbah Ambyah merayu pembeli.

    Betul, rasa gurih dan aroma harum daging kambing terasa sekali. Apalagi nasinya dibasahi dengan kuah encer. Dilengkapi minum teh panas manis bergula batu.

    “Waduh, enak sekali Mbah sate gaya barunya, Ini namanya sate apa Mbah?” tanya pembeli itu.

    Mbah Ambyah kebingungan, Isterinya celingukan melihat sekeliling, lalu tersenyum,

    “Pak, bagaimana kalau sate kita ini kita beri nama Sate Klathak. Kan waktu satenya dibakar berbunyi kratak-kratak, dan lagi dekat tempat kita berjualan ada pohon melinjo, Buahnya bernama klatak kan bertebaran di sini. Lihat itu klatak,” kata isteri Mbah Ambyah.

     

    Mbah Ambyah setuju dengan usul isterinya.

    “Mas, sate gaya baru ini kita beri nama Sate Klathak,” kata Mbah Ambyah kepada pembeli satenya.

    “Sate Klathak Mbah? Wah bagus namanya. Akan saya sampaikan kepada teman-teman penggemar sate,” kata pembeli itu.

    Mulai hari itu Mbah Ambyah berjualan Sate Klathak. Tentu dia masih juga menjual gulai kambing, tongseng dan sate kambing bumbu biasa. Dan pembeli yang ingin menikmati lezatnya Sate Klathak makin lama makin banyak. Sate Klathak makin dikenal oleh masyarakat dan masuk dalam daftar jenis sate yang ada. Nama Sate Klathak masuk dalam buku dari Departemen Pertanian yang terbit tahun 1967.

    Mbah Ambyah menurunkan ilmu membuat Sate Klathak kepada anak cucu dan keponakannya. Mereka menjadi pewaris Sate Klathak. Ternyata para pewaris ilmu pembuatan Sate Klathak ini adalah manusia-manusia kreatif. Manusia kreatif dari Wonokromo. Mereka bisa menetapkan standar daging kambingnya berasal dari kambing berumur berapa bulan. Mereka bisa menentukan standar cara memotong daging dengan pisau standar seperti apa, sehingga bisa menghasilkan potongan daging kambing yang pas untuk dibuat sate klatak. Mereka juga bisa menentukan standar taburan garam sebanyak berapa jimpit, menentukan standar waktu untuk membakar daging kambing sampai empuk. Manusia kreatif dari Wonokromo ini meneruskan kebiasaan Mbah Ambyah menyuguh pembeli dengan sajian teh panas gula batu.

    Sayur kuah encer untuk membasahi nasi pun juga dimasak dan disajikan kepada pembeli. Meski ada resep standar utama dalam memasaknya, masing-masing pewaris Sate Klathak Mbah Ambyah ini membuat sedikit variasi sesuai dengan selera pembeli. Bahkan ada yang membuat variasi, sate goreng seperti yang bisa dinikmati di tengah pasar di tempat penjual sate Pak Bari..

    Sate Klathak makin mudah ditemukan di sekitar Wonokromo, melengkapi jualan sate bumbu dan sate lainnya. Pergerakan pasar klatak berlangsung landai sampai kemudian menemukan momentum menjadi booming Sate Klathak.

    Booming sate klatak inilah yang membuat Sate Klathak bisa menasional seperti sekarang sampai mendapat pengakuan secara nasional oleh Pemerintah sebagai WBTB atau Warisan Budaya Tak Benda tahun 2019. Sebuah pengakuan yang perlu disambut baik dan disyukuti oleh masyarakat Wonokromo.

  • Alur Sejarah Munculnya Warung Sate

    Alur Sejarah Munculnya Warung Sate

    Sate Klatak Wonokromo, Pada zaman dahulu, pada kurun berpuluh tahun mendekati satu abad, peta penjual gulai kambing, lengkap dengan sate kambing dan tongseng kambing di Yogyakarta bisa dilacak dengan mudah. Pada komunitas santri atau masyarakat kaum santri di Yogyakarta punya legenda penjual gulai dan sate kambing sendiri-sendiri.

    Masyarakat santri penghuni bekas ibukota Mataram Islam, Kotagede, punya legenda penjual gulai dan sate bernama Pak Bahir yang berjualan di bekas tempat kediaman raja di kampung Ndalem, persisnya di dekat tempat penyimpanan watu canteng. Di Kotagede juga ada penjual gulai dan sate kambing Pak Slamet yang berjualan di jalan Mondorakan Kotagede dan rumahnya juga kampung Ndarakan alias Mondorakan. Diperkirakan di kampung ini dulunya ada rumah atau Ndalem Kepatihan tempat Ki Patih Mondoroko alias Ki Juru Mertani tinggal. Penjual gulai dan sate kambing Pak Slamet lokasinya persis di seberang makam besar peninggalan zaman Mataram Islam Kotagede. Makam ini dikenali sebagai makam seorang Jagal resmi kerajaan Mataram Islam Kotagede dan meninggalkan jejak di belakang makam sebuah kampung bernama kampung Jagalan dan sekaligus menjadi nama sebuah desa atau Kelurahan bernama Kelurahan Jagalan yang dulu masuk dalam Kecamatan Kotegede Surakarta (Kotagede Ska), yang setelah ditukar guling, menjadi bagian dari Kecamatan Banguntapan Kabupaten Bantul.

    Makam besar di depan warung gulai dan sate Pak Slamet atau Pak Slamet Gule sekarang sudah dibongkar, jenazahnya dipindah ke makam Semoyan Baru dan di bekas lokasi makam dibangun Masjid Al  Huda, gedung pertemuan dan kompleks administrasi kantor Kelurahan Jagalan. Di lokasi sekitar sini dulu dihuni orang kaya yang dikenal sebagai orang Kalang Muslim yang bersahabat erat dengan para ulama Wonokromo dan masyarakat Wonokromo.

    Kemungkinan besar orang Kalang Muslim ini menjadi penggemar masakan gule kambing dan sate kambing yang lezat yang dimasak oleh ahli masak gulai dan sate dari Wonokromo, tempat asal usul munculnya sate klatak.

    Di dekat masyarakat santri Kauman Yogyakarta, kampung yang amat dekat dengan kraton Kasultanan Yogyakarta dulu ada warung gulai dan sate kambing Pak Kembar yang lokasinya di selatan jagang Kauman, di jalan Ngasem. Selain gulai dan sate, masakan Pak Kembar yang terkenal lezat adalah tongsengnya. Di Alun-alun Utara ada penjual sate kambing bernama warung sate Pak Amat yang melayani pembeli dari keluarga Kraton dan masyarakat sekitarnya. Di masyarakat santri Kuncen Yogyakarta, pada ujung jalan menuju Makam Pakuncen ada penjual gulai, sate dan tengkleng Pak Dakir yang terkenal dan menjadi tujuan jajan para seniman  seperti Amri Yahya dan Azwar AN dan teman-temannya. Lokasi warung Pak Dakir dekat Pasar Kuncen yang waktu itu merupakan pasar hewan di Kota Yogyakarta bagian barat.

    Para pedagang hewan dan para pengunjung pasar hewan menggunakan warung Pak Dakir untuk makan siang dan untuk bertransaksi. Mereka bisa berembug soal harga hewan ternak seperti kambing dan lembu di dalam warung sambil menikmati sajian gulai kambing, tongseng, tengkleng dan sate kambing yang lezat, dilengkapi minuman teh nasgitel.

    Waktu itu kampung Kuncen juga dekat sekali dengan kampus ASRI atau Akademi Seni Rupa Indonesia. Banyak dosen, mahasiswa, seniman senirupa dan karyawan kampus menjadi pelanggan tetap warung Pak Dakir.

    Di Karangkajen yang penduduknya dikenal sebagai kaum santri kota, ada warung yang jelas-jelas bernama Warung Sate Karangkajen yang sate sandung lamurnya terkenal empuk menghanyutkan lidah. Penjual sate ini belum diketahui keturunan penjual sate dari mana. Yang penting, satenya empuk dan enak. Sedang di Kauman Pakualaman, tepatnya di jalan Masjid dekat Jamu Ginggang ada Warung Sate Pak Jono yang menyedikan sate kambing bumbu dengan daging tanpa lemak. Masakan iga kambingnya juga lezat.

    Di lingkungan masyarakat santri Piyungan, di sekitar Payak pun ada penjual gulai dan sate kambing terkenal. Dan di daerah santri bernama Kalangan dan Wiyoro Kecamatan Banguntapan dikenal dengan Warung Sate Wiyoro yang cukup lezat sajiannya. Untuk kawasan Yogyakarta barat, di jalan Godean ada penjual sate kambing muda yang sampai hari ini masih ramai pembeli.

    Tentu, kawasan selatan kota Yogyakarta, di kawasan santri bekas ibukota kerajaan Mataram  Islam zaman Sultan Agung dan Amangkurat Agung, yaitu kawasan Kerto, Pleret, Wonokromo dan Blawong banyak penjual sate kambing lengkap dengan gulai kambing dan tongseng kambing.

    Yang menjadi pertanyaan penting adalah, kenapa di masyarakat-masyarakat santri di bekas pusat kekuasaan kerajaan Mataram Islam dan kerajaan pewarisnya tersebut, ditambah  lokasi pesantren tempat para kiai dan ulama berada, muncul para orang dewasa bahkan anak-anak dan remaja yang menjadi penggemar masakan yang terbuat dari daging kambing? Karena masyarakat santri akrab dengan tradisi aqiqah dan menyembelih hewan kurban setiap Hari Raya Idul Adlha atau Idul Qurban.

    Pada saat melaksanakan aqiqah dianjurkan membagi masakan masak berupa gulai kambing dengan kuah gurih yang banyak.

    Dalam perkembangan zaman, orang yang mengadakan upacara aqiqah selalu menyertakan sate kambing bakar sebagai pelengkap. Sedang saat Idul Adlha, para penerima daging kurban di kampung-kampung dan di desa-desa cenderung membakar atau memanggang daging kambing menjadi sate kambing dengan bumbu ketumbar atau bawang dicampur gula Jawa atau kecap.

    Siang atau sore sehabis masyarakat santri menyelenggarakan shalat Idul Adlha dan panitia kurban telah selesai tugasnya menyembelih hewan kurban, menguliti, dan memotong serta membagi daging kurban, maka bau asap pemanggangan sate merebak di mana-mana. Seolah-olah kampung dan desa berubah menjadi kampung dan desa sate. Semua warga menjadi terlatih makan sate dan diam-diam menjadi penggemar makan makan sate. Mereka potensial menjadi konsumen sate yang laten. Termasuk menjadi konsumen sate klatak.

     

    * * *

    Dari uraian di atas dapat disimpulkan adanya tiga alur sejarah sate yang menarik. Pertama, dari alur tradisi makan daging di lingkungnan istana. Di lingkungan istana, daging diperloleh lewat berburu di hutan perburuan seperti hutan di sekitar panggung Krapyak atau di hutan sekitar Krapyak Utara Yogyakarta dan hutan perburuan lainnya. Hewan hasil perburuan ini kemudian dijadikan daging panggang utuh.

    Dalam perkembangan selanjutnya, proses memperoleh daging yang sudah dipotong sesuai kebutuhan masak untuk sajian andrawina atau pesta besar kerajaan dilakukan oleh ahli masak yang berasal dari warga desa sekitar ibukota kerajaan. Para ahli masak daging ini ini kemudian menurunkan ilmu memasak daging ke anak cucu yang kemudian mereka mencari uang dengan membuka warung gulai dan sate.

     

    Pada zaman berikutnya para bangsawan dan warga sekitar kraton menjadi konsumen sate. Termasuk sate kambing yang dijual di sekitar tempat kediaman mereka.

    Alur sejarah kedua, dari tradisi makan daging berasal dari zaman para wali yang bergelar Sunan dan para penerus wali yang bergelar Ki Ageng serta para penerusnya lagi yang bergelar Kiai atau Romo Kiai. Mereka diikuti oleh para santri dan masyarakat di lingkungan pesantren. Di lingkungan ini ada kegiatan keagamaan bersifat publik, yaitu penyelenggaraan Shalat Idul Adlha yang diikut penyembelihan hewan kurban, kemudian dagingnya dibagi kepada anggota masyarakat. Kegiatan ini terbukti bisa mengenalkan kepada masyarakat akan pentingnya makan daging sebagai sumber protein hewani. Setelah mengenal lezatnya daging kambing atau domba, masyarakat pun menjadi penggemar makan daging kambing atau domba.

    Fakta adanya kegiatan keagamaan bersifat publik di atas dalam fakta sosial masyarakat santri, dilengkapi dengan hadirnya kegiatan keagamaan yang bersifat domestik (keluarga) dan privat (pribadi), yaitu kegiatan aqiqah ketika ada bayi lahir. Setelah sebuah keluarga mendapat karunia dari Tuhan berupa bayi yang lahir di tengah keluarga, maka dalam ajaran agama Islam dianjurkan untuk menjalankan kegiatan atau upacara aqiqah. Yaitu menyembelih kambing yang dagingnya dimasak menjadi gulai kemudian dibagikan kepada para tetangga.

    Pada perkembangan berikutnya, yang dibagi saat aqiqah kepada tetangga dan saudara, selain gulai kambing masak sudah dilengkapi dengan nasi, kerupuk dan sate. Sate menjadi menu tambahan pada makanan hantaran aqiqah. Mereka yang menerima hantaran dengan senang hati menerima dan menikmati sate sebagai menu tambahan makanan aqiqah ini.

    Alur sejarah ketiga, yang berkaitan dengan sejarah tradisi makan daging di masyarakat yang berujung pada munculnya warung sate, diawali ketika ahli masak atau keturunan ahli masak daging yang rajin melayani raja dan bangsawan pendukungnya, atau para ahli masak atau keturunan ahli masak daging yang melayani para Sunan, Kia Ageng, Kiai atau Romo Kiai dan keluarga Gus, kemudian mengkomersialkan keahliannya dengan membuka warung gulai kambing dan melengkapi sajian warungnya dengan masakan tongseng, sate dan tengkleng.

    Identitas warung ini adalah warung gulai karena menu utamanya adalah gulai kambing dengan nasi, irisan brambang, kubis, lombok dan dilengkapi kerupuk. Tongseng dan sate menjadi menu pelengkap.

    Pada perkembangan zaman berikutnya terjadi perubahan dan pembalikan identitas warung. Keturunan pemilik warung gulai kambing kemudian memproklamirkan dirinya sebagai pemilik warung sate dan sate menjadi menu utama. Pada warung yang sudah memiliki brand atau identitas sebagai warung sate ini masakan gulai dan tongseng menjadi menu tambahan, bukan menu utama. Ini terjadi di Yogyakarta, terutama setelah terjadinya serbuan massif warung sate ayam Madura di pinggir jalan dan berkelilingnya penjual sate ayam Madura di dalam kampung.

    Penjual gulai kambing merasa terdesak posisinya dan melakukan arus balik dengan membalikkan identitas warungnya menjadi warung sate kambing. Jadi hadirnya warung sate ayam Madura menjadi berkah tersendiri. Warung gulai bisa mengimbangi munculnya sate ayam Madura dengan mengibarkan bendera warungnya sebagai dan menjadi warung sate kambing.

     

    Para penggemar daging kambing pun di kemudian hari lebih mengenal warung sate ketimbang warung gulai. Kemudian muncul warung tengkleng kambing dari arah timur, walau arusnya tidak sederas warung sate ayam Madura.

    Pengetahuan dan pemahaman akan alur sejarah dan sosiologi munculnya warung sate kambing ini penting untuk dimiliki agar kita tidak mengalami disorientasi kegiatan di masa depan. Bahwa munculnya warung sate kambing sudah on the right track atau berada pada rel sejarah yang benar. Termasuk ketika dari kalangan aktivis dan penjual sate kambing muncul fenomena Sate Klathak yang sepertinya mendesak hadirnya sate kambing biasa, sate kambing bumbu kecap atau sate kambing pedas karena taburan bubuk merica.

    Muncul dan berkembangnya Sate Klathak menjadi logis karena perkembangan bisnis sate menuntut adanya kekhasan tersendiri sehingga bisnis sate menjadi suatu hal yang menonjol dan menjadi merk dagang sate khas Wonokromo dan Yogyakarta. Apalagi dalam perkembangan dunia pariwisata Sate Klathak dikemas dan diwacanakan sebagai kuliner unggulan dan karena memiliki sejarah panjang layak disebut sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) yang menuntut selalu ada gerak pelestarian, pemanfaatan dan pengembangannya.

    Dalam hal ini, perlu dicatat bahwa tradisi memasak sate khas Wonokromo Yogyakarta tumbuh sendiri dan tidak berkaitan dengan tradisi makan daging kambing yang tumbuh di Solo yang dipengaruhi tradisi makan daging kambing yang dikembangkan warga keturunan Arab Yaman di kawasan Pasar Kliwon.