Tag: Sate Klathak Wonokromo

Sate Klathak Wonokromo Rekomendasi Sate Klathak Jogja Terenak

  • Kuliner sebagai Media Akulturasi

    Kuliner sebagai Media Akulturasi

    Dalam sejumlah manuskrip kuno disebutkan bahwa Raja-Raja Mataram Islam, khususnya sejak Sultan Agung, senantiasa melakukan akulturasi dan pembauran tradisi, tak terkecuali di bidang kuliner. Tamu-tamu penting dari Dinasti Ottoman, Turki, juga bangsawan dari negara Arab, mendapat kehormatan dengan suguhan dari daging kambing sebagaimana kuliner khas mereka. Tradisi makan Kebab dan Kambing Guling, diadaptasi menjadi sajian sate kambing, gulai, tongseng dan kicik yang cenderung manis.

    Dalam Serat Kandha dan Serat Centhini, narasi tentang kuliner khas Mataram Islam dari bahan dasar daging kambing muncul saat menggambarkan kegiatan Raja-Raja Mataram Islam menyambut tamu-tamu penting dari negara-negara di Timur Tengah. Tak kalah pentingnya juga tradisi syariat Islam yang mengharuskan menyembelih kambing saat melaksanakan akikah dan Idul Qurban. Tradisi syukuran dengan menyembelih kambing lalu dimasak menjadi isi lemper, pada era Kyai Welit I hingga Welit 5 tercatat dalam Tradisi Rabu Pungkasan yang diselenggarakan setiap Rabu terakhir bulan Sapar di Wonokromo.

  • Menapak Sejarah Sate Klathak

    Menapak Sejarah Sate Klathak

    Jejeran, yang berada di Kalurahan Wonokromo adalah sentra kuliner kambing di Jogja sejak masa Mataram Islam, atau sejak 5 Abad silam.

    Kesukaan masyarakat Yogyakarta terhadap makanan hewani bisa ditarik mundur ke zaman Sultan Agung Hanykrokusumo. Di masa itu, duta VOC, Van de Haan datang ke Ibukota kerajaan yang ada di Kerta. Saat ini bekas keraton berada di kawasan Kapanewonan Pleret, Bantul.

    Van de Haan menyebutkan jika setiap hari ada 4.000 ternak yang disembelih untuk keperluan pangan penduduk di Ibukota kerajaan tersebut.

    “Salah satu hewan yang banyak disembelih saat itu adalah kambing,” kata pendakwah sekaligus pemerhati budaya Jawa, Sallim A Fillah dalam channel YouTube miliknya.

    Kawasan Jejeran sebagai pusat kuliner sate klathak di Jogja berada di kawasan Kapanewonan Pleret yang dulunya pernah dua kali menjadi Ibukota Kesultanan Mataram Islam, yaitu di masa Sultan Agung Hanyokrokusumo dan Susuhunan Amangkurat I.

    Ketika Mataram Islam terbagi dua saat Paliyan Nagari dalam Perjanjian Giyanti, maka filosofi kuliner yang berkembang di dua wilayah itu juga berbeda. Di Solo, dikenal dengan “Keplek Ilat” yang artinya memanjakan lidah. Sementara di Jogja menganut filosofi “Pawon Anget”.

    Ini juga terlihat dari varian makanan berbahan kambing di dua kota tersebut.

    Di Jogja, saat ini beragam sajian olahan kambing tersedia. Bicara otentisitas, beberapa yang dikenal khas Jogja banget adalah Sate Klathak, kronyos, hingga baceman kepala kambing.