Tag: Rekomendasi Sate Klathak Jogja

Rekomendasi Sate Klathak Jojga Terenak, Sate Klathak Jogja, Kuliner Jogja, Kuliner Sate Enak Jogja,

  • Gerakan Sate Klathak dan Maknanya

    Gerakan Sate Klathak dan Maknanya

    Sate Klathak Wonokromo, Gerakan Sate Klathak di Wonokromo tumbuh dan berasal dari masyarakat, oleh masyarakat, bersama masyarakat Wonokomo dan sekitarnya untuk masyarakat Wonokromo, Yogyakarta dan Indonesia. Yang dimaksud dengan gerakan Sate Klathak disini adalah tumbuh dan bergeraknya kesadaran bersama untuk mendukung dan mengembangkan Sate Klathak sesuai dengan peran dan fungsinya masing-masing.

    Para juragan Sate Klathak mengontrol dan mengendalikan kegiatan pra produksi, saat produksi dan pasca produksi Sate Klathak.  Para karyawan usaha sate klatak bekerja secara optimal dan profesional di posisi manapun dalam unit kerja usaha Sate Klathak.

    Para pemasok kambing, beras, bumbu, deruji sepeda, pemasok arang, plastik dan kertas pembungkus, sabun pencuci piring dan pernik-pernik kebutuhan usaha Sate Klathak memasok barang yang berkualitas prima dengan harga pantas kepada pengusaha Sate Klathak.

    Para konsumen atau pembeli tugasnya hanya tiga, (1) menikmati Sate Klathak, (2) membayar harga Sate Klathak dengan wajar dan (3) memberi komentar atas pengalamannya nyate klatak di Wonokromo.

    Pihak yang secara sukarela menjadi komunikator online atau offline juga melakukan kegiatannya dengan rasa suka cita dengan hasil atau produk media sesuai cita-cita.

    Aparat pemerintah setempat, dalam hal ini Pemerintah Kelurahan Wonokromo dan instansi terkait membina dan membuka peluang seluas-luasnya bagi pengembangan usaha Sate Klathak.

    Gerakan Sate Klathak yang muncul dari inisiatif masyarakat lokal ini, uniknya, menggunakan pola partisipasi, bukan mobilisasi. Dengan demikian gerakan ini tumbuh relatif natural dan bisa dengan cepat menyesuaikan diri dengan perkembangan dan perubahan zaman, termasuk pesatnya dunia pariwisata yang tumbuh, berubah dan bergerak di Wonokromo, Bantul, Yogyakarta dan Indonesia.

    Perkembangan dan perubahan cepat industri informasi digital cukup memberi pengaruh signifikan bagi pesatnya gerakan Sate Klathak Wonokromo. Terjadi proses pencitraan positif Sate Klathak yang terus menerus setiap saat di dunia maya.

    Profil juragan sate klatak yang rendah hati dan dermawan, profil karyawan yang ramah dan cepat melayani konsumen dengan tetap menjaga kualitas rasa lezat satenya, profil Sate Klathak sendiri sebagai entitas kuliner terkemuka di Wonokromo, Bantul dan Yogyakarta, dan narasi tentang lezatnya Sate Klathak dalam suasana desa yang tenang dan sejuk muncul dalam pemberitaan formal dan informal di media cetak dan di media digital.

    Mereka yang terlibat dalam gerakan Sate Klathak ini makin hari makin tidak bisa dihitung jumlahnya karena setiap hari bertambah pesertanya. Bahkan dalam setiap jam atau setiap detik muncul dan hadir para peserta gerakan Sate Klathak.

    Sudah berapa ribu atau berapa ratus ribu kambing muda yang dipasok ke Wonokromo? Ini melibatkan berapa puluh atau pemasok dan berapa ratus peternak? Tidak ada yang tahu. Sudah berapa kwintal atau ton arang yang dipasok ke Wonokromo juga sulit dihitung jumlahnya. Berapa kilogram, berapa kwintal atau malahan berapa ton garam sebagai bumbu tunggal Sate Klathak yang masuk Wonokromo, belum ada yang menghitung dan meneliti. Berapa kwintal atau ton gula batu yang selama ini menemani Sate Klathak dalam bentuk minuman teh manis? Belum ada yang sempat menghitung.

    Kalau pengusaha Sate Klathak sukses seperti Pak Pong dibantu seratus karyawan dalam usahanya menjual Sate Klathak dan penjual Sate Klathak yang masih dalam merintis usaha paling tidak dibantu dua orang, maka dalam sehari produksi Sate Klathak di puluhan warung sate berapa ratus jiwa yang kehidupannya ditanggung oleh seluruh usaha Sate Klathak?

    Sungguh sangat bermakna usaha Sate Klathak ini secara ekonomi dan secara kemanusiaan bagi warga Wonokromo dan sekitarnya.

    Tersedianya kesempatan kerja, terbukanya kemungkinan mereka yang memperoleh manfaat dari usaha sate klatak untuk membiayai pendidikan anak-anak mereka dan membiayai kesehatan mereka serta terbangunnya suasana kerjasama dan kolaborasi banyak pihak menunjukkan kalau usaha Sate Klathak memiliki makna kultural dan makna kesejahteraan yang layak diperhitungkan.

    Gerakan Sate Klathak Wonokromo ini cukup menginspirasi kelompok masyarakat di luar Wonokromo bahwa setiap usaha yang digali berdasar potensi lokal memiliki peluang untuk dikembangkan secara maksimal dengan hasil yang dalam bahasa Jawanya murakabi marang kabehane. Murakabi dalam arti ngrejekeni lan mbarokahi secara terus menerus. Dalam konteks ini kejeniusan Mbah Ambyah dan kreativitas para penerusnya patut diberi apresiasi.

    Salah satu bentuk apresiasi yang diberikan oleh Pemerintah melalui Mendikbud adalah memberi pengakuan bahwa Sate Klathak Wonokromo merupakan Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) yang amat berharga bagi masyarakat dan bangsa sehingga perlu senantiasa dilestarikan, dimanfaatkan dan dikembangkan keberadaannya.

  • Sate Klathak  dan Matarantai Ekonomi Berkeadilan

    Sate Klathak dan Matarantai Ekonomi Berkeadilan

    Sate Klathak Wonokromo, Ada matarantai ekonomi yang bergerak cepat, dengan irama usaha mirip irama musik rock, muncul pada saat proses (1) pra produksi Sate Klathak, saat terjadinya proses (2) produksi Sate Klathak dan (3) pasca produksi Sate Klathak di Wonokromi Pleret Bantul dan di daerah-daerah yang dalam jangkauan matarantai atau jaringan produksi Sate Klathak.

    Yang menarik, matarantai ekonomi yang bergerak mengiringi proses produksi Sate Klathak adalah matarantai ekonomi yang berkeadilan sosial. Artinya, masing-masing yang terlibat dalam proses pra produksi, saat produksi dan pasca produksi mendapat bagian keuntungan yang proporsional. Bahkan sebagian keuntungan yang didapat para juragan Sate Klathak dikembalikan ke masyarakat dalam bentuk pembiayaan atas kegiatan sosial, kegiatan keagamaan dan kegiatan adat seni budaya lokal.

    Dengan sukarela dan tulus ikhlas para juragan Sate Klathak mengeluarkan dana semacam dana CSR (corporate social responsibility) secara mandiri dan berkelanjutan tanpa ada yang meminta karena muncul atau mrentul dari hati dan kehendak mereka sendiri. Ini sungguh praktek berekonomi dan merupakan bangunan ekonomi usaha yang berkeadilan sosial yang luar biasa yang dipraktekkan oleh anggota masyarakat Wonokromo dan sekitarnya yang bisa menjadi inspirasi bagi pelaku kegiatan usaha ekonomi produktif di masyarakat umum atau di masyarakat santri di tempat lain di Indonesia.

    Pada saat pra produksi Sate Klathak, saat atau episode persiapan yang aktif terlibat adalah anggota masyarakat yang dalam usaha pertanian, usaha peternakan, usaha energi pembakaran yaitu usaha pembuatan arang, usaha pembuatan dan penyiapan bumbu dan pelengkap seperti usaha pembuatan garam, kecap, angkutan dan yang terlibat dalam usaha perdagangan produk pertanian dan produk peternakan. Secara berkala, produsen dan pedagang jeruji sepeda juga berperan pada pra produksi Sate Klathak. Sebab ketersediaan jeruji merupakan keniscayaan bagi kegiatan produksi Sate Klathak. Adanya kepastian suplai jeruji sepeda memberi rasa aman bagi produsen dan penjual Sate Klathak.

    Apa yang disebut sebagai pasar ternak dan pasar tani sudah bergerak cepat pada saat pra produksi Sate Klathak ini dalam bentuk kegiatan berproduksi dan berdistribusi barang pertanian dan peternakan. Ini juga menghidupkan usaha transportasi barang produk pertanian dan peternakan tesebut. Mereka bergerak untuk mensuplai kebutuhan juragan Sate Klathak dan penjual Sate Klathak di Wonokromo dan tempat-tempat lainnya. Putaran uangnya pada saat pra produksi Sate Klathak ini dalam setahun sudah mencapai puluhan atau bahkan mencapai ratusan miliar rupiah.

    Usia ideal kambing yang disetorkan ke para pengusaha Sate Klathak adalah usia muda. Usia muda di bawah satu tahun. Ini juga mempercepat usaha untuk mendatangkan kambing berusia muda ke Wonokromo. Kambing muda dari Wonosobo, Purworejo, Temanggung dan kambing dari Sumatra pun didatangkan ke Wonokromo untuk menjamin kepastian suplai kambing. Para peternak dan pedagang kambing dari tempat tersebut pun mendapat kepastian kalau hewan mereka akan terbeli dengan harga yang pantas. Mereka mendapat keuntungan yang proporsional sesuai dengan usaha dan posisi mereka sebagai peternak dan pedagang kambing.

    Pada saat proses produksi Sate Klathak yang lebih dominan adalah proses transaksi kontraktual antara karyawan atau pegawai dengan juragan Sate Klathak atau usahawan Sate Klathak.

    Operasionalisasi sumber daya manusia yang memiliki kapasitas dan kompetensi dalam memproses daging kambing mentah menjadi Sate Klathak matang dan lezat sehinga disukai konsumen dan dibeli konsumen. Suksesnya penjualan Sate Klathak ditentukan oleh bekerjanya sumber daya manusia yang profesional di bidang pesateklatakan ini. Uniknya, rekrutmen sumberdaya manusia Sate Klathak berikut proses peningkatan kapasitas kerja menuju derajat kompetensi dalam persateklatakan ini berlangsung secara kultural dan smooth. Proses rekrutmen tenaga kerja Sate Klathak berlangsung setengah tertutup dalam arti lebih mengutamakan warga Wonokromo atau kenalan mereka.

    Peningkatan kapasitas kerja menuju kompetensi dalam persateklatakan berlangsung dengan pola in job training yang murni dan sederhana. Tenaga kerja atau sumber daya manusia yang baru misalnya, masuk ke dalam lingkungan kerja Sate Klathak diawali dengan proses magang, dalam bahasa Jawanya mereka bekerja lewat metode ngematke, niroake lan ngembangke, melihat dan memperhatikan kemudian menirukan apa yang dikerjakan juragan Sate Klathak atau karyawan senior kemudian mengembangkan ketrampilannya.

    Dengan pola kerja seperti ini lama kelamaan mereka akan wanuh, dan memiliki keterampilan dalam membakar sate, mengetahui standar waktu yang diperlukan untuk mematangkan Sate Klathak. Juga mengetahui seberapa banyak garam perlu ditaburkan ke dalam daging. Mereka juga mengetahui standar usia kambing dan menaksir beratnya untuk menentukan harga kambing yang akan dibeli dari pemasok kambing. Ketrampilan dasar dalam persateklatakan ini terus diasah untuk sampai ke tingkat ahli.

    Setelah berada pada level ahli mereka memiliki kompetensi untuk membuka cabang misalnya. Tentu kendali mutu dan kendali kerja mereka tetap berada di bawah kontrol otoritas juragan Sate Klathak mereka.

    Pada saat pasca produksi Sate Klathak maka yang berlangsung adalah proses transaksi jual beli antara juragan Sate Klathak atau pengelola cabang warung Sate Klathak dengan pembeli atau konsumen Sate Klathak. Tugas juragan Sate Klathak, pengelola cabang warung Sate Klathak pada proses pasca produksi ini adalah memberikan pelayanan yang optimal kepada pembeli atau konsumen Sate Klathak.

    Pelayana in door berupa pelayanan di dalam warung yang intinya membangun suasana nyaman bagi konsumen atau pembeli Sate Klathak.

    Dalam hal ini (1) kebersihan ruangan perlu dijaga (2) penataan barang peralatan di dalam ruangan perlu dijaga kerapiannya (3)  kebersihan Sate Klathak berikut nasi dan lalapan dan pelengkap lainnya perlu senantiasa dijaga (4) keramahan dan murah senyum disertai kata-kata santun perlu diberikan kepada setiap pengunjung (5) kecepatan dalam melayani pembeli atau konsumen perlu senantiasa diperhatikan sehingga mereka merasa penting, dihargai  dan dipentingkan (6) menuruti permintaan konsumen atau pembeli sebatas memungkinkan.

    Dengan demikian setiap pengunjung warung Sate Klathak akan terkondisi untuk fokus menikmati kelezatan klatak dan tidak terganggu hal-hal selain itu. Ini akan membuat pengunjung warung Sate Klathak menjadi pelanggan setia dan mereka dengan suka rela akan merekomemdasi warung ini kepada teman dan kenalan yang ingin menikmati Sate Klathak.

    Pelayanan out door atau pelayanan kepada konsumen ketika baru sampai ke warung sungguh perlu diperhatikan sebaik-baiknya. Mengarahkan para tamu agar menempatkan kendaraan, apa pun kendaraannya, ke tempat parkir yang disediakan dengan tujuan agar kendaraan tamu atau konsumen ini tertata rapi di luar warung. Tujuannya sederhana, agar ketika tamu selesai makan dan membayar harga Sate Klathaknya mereka mudah menemukan kendaraan mereka dan mudah keluar dari lokasi warung Sate Klathak.

    Tentu, sebagaimana pelayanan in door warung maka pelayanan out door warung Sate Klathak ini pun dipenuhi suasana santun, ramah dan bersahabat. Petugas parkir pun perlu mengucapkan terima kasih atas kunjungan para tamu ini. Untuk ini juga perlu dijaga ketelitian tukang parkir ketika ada tamu datang memarkir kendaraan kemudian masuk warung. Apakah kunci mobil atau motor telah dilepas atau belum. Kadang ada pembeli Sate Klathak saking kepingin menikmati Sate Klathak lupa melepas kunci kendaraan. Adalah tugas petugas parkir untuk melepas kunci kendaraan ini dan dengan ramah menyerahkan kepada pemiliknya.

    Hal lain yang termasuk dalam pelayanan prima kepada pengunjung warung adalah menyediakan toilet, WC dan musholla di dekat warung. Pengunjung yang datang dari jauh sangat memerlukan fasilitas ini. Mungkin ketika sampai di warung Sate Klathak mereka belum shalat atau ingin buang air, mereka segera memanfaatkan fasilitas umum ini. Selain itu karyawan warung Sate Klathak juga perlu memberi keleluasaan dan kesempatan kepada pengunjung yang ingin memanfaatkan situasi dan kondisi di luar warung Sate Klathak atau di dalam warung Sate Klathak sebaga lokasi selfie dan melakukan kegiatan potret memotret.

    Mereka pasti menemukan suasana yang unik, instagramable istilahnya, dan menarik untuk didokumentasikan sebagai dokumentasi pribadi atau sebagai bahan untuk dishare kepada kenalan lewat medsos. Yang membuat Sate Klathak makin popular selama ini antara lain jasa pengunjung yang dengan suka rela ngeshare hasil foto atau video singkat ketika mereka berkunjung ke warung Sate Klathak.

    Mereka menambah dengan komentar yang asyik untuk memancing minat kenalan dan memancing komentar siapa saja yang melihat unggahan mereka di medsos. Makin banyak komentar, apalagi komentar kepuasan dan kenyamanan dan keunikan sebuah warung sate klatak, termasuk keramahan dan kecepatan karyawan dalam melayani konsumen makin populer pula sebuah atau beberapa buah warung Sate Klathak Wonokromo.

    Jadi proses pasca poduksi Sate Klathak adalah proses pelayanan kepada konsumen dan proses publikasi berantai yang justru lebih banyak dilakukan oleh para konsumen. Tentu publikasi yang dilakukan oleh pemilik blog, portal online, channel para youtuber dan jurnalis online juga perlu dicermati sebagai proses sosialisasi warung Sate Klathak di dunia maya.

    Advertensi atau iklan spontan dan alami ini sekarang ini tengah berlangsung secara massif dan dunia kuniler menjadi konten yang cukup dominan dalam dunia virtual atau jagad maya yang tengah menjadi dunia mengasyikkan bagi generasi milenial sekarang ini. Oleh karenanya merupakan hal yang perlu dicermati, didukung, diperhatikan dan disimak baik-baik oleh pengelola warung Sate Klathak. Kalau perlu pegelola warung Sate Klathak memiliki dan mengembangkan divisi penyiaran atau publikasi online yang beroperasi secara interaktif. Dengan demikian respon konsumen selalu terpantau dengan seksama.

    Ternyata di dalam dan di luar segala aktivitas persateklatakan terbangun mata rantai ekonomi yang berkesinambungan dengan matarantai komunikasi sosial lewat dunia online, jagad maya dan alam virtual masyarakat kita sekarang ini. Ini yang membedakan dengan kegiatan usaha ekonomi ketika warga masyarakat Wonokromo masih berada episode membuka warung gulai, dengan sate sebagai menu tambahan.

    Ketika warung gulai diubah menjadi warung sate, yang berubah ternyata ekosistem usaha dan atmosfir usahanya. Ini jelas menguntungkan dan bisa dimanfaatkan atau telah termanfaatkan sebagai momentum booming atau momentum akselerasi pertumbuhan warung Sate Klathak Wonokromo itu sendiri.

  • Momentum Booming Sate Klathak

    Momentum Booming Sate Klathak

    Tahun 2000an kuliner asli Nusantara mulai dikampanyekan sebagai bagian dari atraksi wisata. Masakan diwacanakan sebagai kuliner, artinya yang berasal dari dapur. Kuliner asli Nusantara artinya makanan dan masakan yang berasal dari dapur-dapur masyarakat di pelosok Nusantara yang sekarang kita kenal sebagai Indonesia. Aneka macam makanan daerah Indonesia dimunculkan dan dikibarkan sebagai bagian daya tarik wisata.

    Di banyak tempat diadakan pameran atau festival makanan Nusantara. Kadang disertai lomba memasak makanan tradisional. Gambar dan resep makanan daerah muncul dan terpampang di media massa. Para ahli masakan makanan tradisional mendapat tempat terhormat. Mereka dijadikan narasumber pelatihan memasak makanan tradisional dan dijadikan yuri lomba masak memasak makanan tradisional. Masyarakat Indonesia pun menjadi melek kuliner, menghargai keterampilan leluhur dalam hal masak memasak makanan tradisional yang amat lezat.

    Lalu muncul aktor atau pelaku kampanye tentang penting dan lezatnya masakan leluhur kita. Dia di kemudian hari dijuluki sebagai pahlawan kuliner daerah di Indonesia. Ya, pada tahun-tahun ini muncul seorang Bondan Winarno yang getol mempopulerkan masakan daerah yang kelezatannya tidak kalah dengan masakan internasional. Sebagai salah seorang pemimpin koran terkemuka, Sinar Harapan, Bondan membuka rubrik Jalan Sutera yang berisi ulasan tentang makanan daerah Indonesia dengan bahasa yang mudah dipahami dan dengan gaya bertutur yang enak.

    Kuliner khas Nusantara pun menjadi dikenal kembali oleh masyarakat Indonesia sebagai kekayaan budaya yang layak dilestarikan dan layak ditampilkan di tempat terhormat. Apalagi Bondan Winarno dengan program tayangan televisi yang dikenal dengan Jurus Maknyus menjadi tontonan wajib mingguan bagi masyarakat Indonesia. Mereka tertarik dengan tayangan itu karena ingin mengenal kembali makanan daerah yang tempatnya dijadikan obyek kunjungan Bondan Winaro dan makanan khasnya dijadikan obyek bahasan dalam tayangan itu. Bondan yang dikenal sebagai jago mencicipi makanan, ahli masak dan mengenal hampir semua hal karena dia adalah jurnalis andal.

    Selain Maknyus yang kemudian ditafsirkan oleh masyarakat sebagai label masakan berkualitas dan lezat, Bondan juga mengenalkan istilah nendang untuk masakan yang bumbunya jelas dan terasa di lidah. Apa yang ditampilkan Bondan menjadi topik menarik dalam perbincangan sehari-hari di masyarakat. Masyarakat pun berbondong mencicipi masakan yang ditampilkan dalam acara jelajah kuliner ini. Masakan atau makanan yang sudah mendapat komentar Maknyus kontan menjadi laris. Potret dia pun dipasang pada dinding restoran atau rumah makan yang telah dia kunjungi.

    Bondang Winarno muncul sebagai public figure, spesialis makanan dan kuliner daerah Nusantara. Dalam hal ini dia juga muncul sebagai motivator bagi peningkatan kualitas masakan tradisional di mana-mana. Sebab setiap pemilik restoran atau warung dengan masakan ini khas betul betul melakukan upaya serius untuk menjaga kualitas masakan yang disajikan dan menjaga kelezatan masakannya. Karena begitu mendapat label Maknyus dari Bondan Winarno dipastikan warung atau restoran ini laris manis dan pengunjung atau konsumennya ingin merasakan kelezatan dan kekhasan warung dan restoran itu sebagaimana Bondan datang dan menikmti masakan yang disajikan dan dijual di tempat itu.

    Para pemilik warung atau restoran tentu tidak mau mengecewakan konsumen yang membanjiri warung atau restorannya.

    Banyak kota dia kunjungi, banyak pelosok tanah air dia datangi hanya untuk mengenal dan mengenalkan masakan daerah yang memang bisa menghanyutkan lidah. Ulasan tentang pengalamannya mencicipi dan menikmati banyak makanan daerah yang lezat ini kemudian dikumpulkan dan diterbitkan menjadi buku tentang seratus masakan istimewa Nusantara.

    Salah satu makanan yang khas yang dia kenalkan adalah Sate Klathak Wonokromo. Sate yang unik dari segi rasa dan bentuk penampilannya. Rupanya Bondan Nusantara pernah ke Wonokromo, menikmati Sate Klathak, memotretnya dan mengulas pengalaman menikmati lezatnya sate klatak.

    Sate Klathak Wonokromo makin berkibar di blantika kuliner Indonesia. Lokasi penjual Sate Klathak Wonokromo pun ditandai sebagai lokasi yang istilahnya recomended untuk didatangi oleh wisatawan dan tamu Yogyakarta. Penjual Sate Klathak tumbuh pesat. Anak cucu, buyut dan cucu keponakan penjual sate klatak yang termasuk anggota Bani Ambyah berjumlah 15 orang. Mereka terkenal semua dan ada lima yang lebih terkenal dan laris.

    Warga Wonokromo mudah mendapat peluang kerja di usaha Sate Klathak ini. Dan mereka yang berpengalaman menjadi karyawan perusahaan Sate Klathak yang terkenal lezat pun kemudian ada yang mendirikan usaha warung Sate Klathak.

    Lokasi usaha Sate Klathak di jalan Imogiri Timur Yogyakata pun makin ramai dengan hadirnya penjual Sate Klathak generasi baru ini. Jiwa usahawan pun tumbuh subur di masyaraat Wonokromo dan ini semua berkat hadirnya Sate Klathak yang ditemukan dan diwariskan ilmunya oleh Mbah Ambyah, warga Jejeran Wonokromo.

    Kemudian, terjadilah booming sate klatak Wonokromo yang bermakna dan signifikan setelah warung Sate Klathak Pak Bari yang lokasi berjualannya di tengah pasar Wonokromo.

    Warung sate dia buka mulai siang sampai tengah malam, dijadikan lokasi syuting film Ada Apa Dengan Cinta 2. Rangga (Nicholas Saputra) dan Cinta (Dian Sastrowardoyo) yang menjadi pelaku utama film besutan sutradara Rudi Sudjarwo bersama produser film Mira Lesmana ini memerankan adegan dinner di tempat Pak Bari yang menjual Sate Klathak di tengah pasar Wonokromo. Ini terjadi di tahun 2014.

    Pak Bari menjadi bahagia, merasa beruntung dan bersyukur karena lokasi jualan Sate Klataknya dijadikan lokasi syuting film keren yang ditonton jutaan anak muda itu. Mengapa? Karena setelah syuting film itu, tempat penjualan Sate Klathak Pak Bari menjadi viral dan dicari orang.

    Jumlah pembeli Sate Klathak menjadi berlipat jumlahnya. Kalau sebelum ada film itu paling dalam sehari dia memotong dua ekor kambing untuk dijadikan Sate Klathak, setelah ada syuting film itu dia bisa memotong sepuluh ekor kambing untuk persediaan bahan Sate Klathak.

    Dalam sehari daging sepuluh ekor kambing ini habis dibeli konsumen saat dimasak menjadi Sate Klathak. Tentu dilengkapi dengan variasi tambahan menu lain masakan berbahan daging kambing. Seperti kronyos dan sate goreng.

    Penjual Sate Klathak yang terbilang sukses, Pak Pong, yang punya tiga lokasi usaha dan seratus karyawan, sehari bisa memotong tigapuluh lima ekor kambing. Bayangkan, kalau daging satu ekor kambing rata-rata bisa dijadikan 300 tusuk Sate Klathak, berapa ribu jumlah total Sate Klathak yang dia jual kepada pembeli yang memadati warungnya. Karyawan dia bisa hidup sejahtera, mendapat gaji yang ditransfer pada rekening masing-masing karyawan.

    Untuk penjual Sate Klathak yang masih merintis usaha yang generasi berikut dari keturunan Mbah Ambyah bernama Mas Handy misalnya, sudah mampu menghabiskan satu sampai dua ekor kambing untuk dipotong dan dagingnya dijadikan bahan pembuatan Sate Klathak. Penjual sate lainnya yang mulai terkenal, bisa memotong kambing yang jumlahnya di bawah jumlah kambing yang dipotong oleh Pak Pong dan Pak Bari. Ini untuk setiap hari.

    Bayangkan kebutuhan daging kambing atau kambing potong sebagai bahan baku syate Klathak Wonokromo setiap bulannya.

    Di tengah booming Sate Klathak ini atau ketika Sate Klathak makin popular di masyarakat Bantul, masyarakat Yogyakarta dan masyarakat Indonesia, maka penjual sate yang biasanya menjual sate bumbu pun melengkapi menunya dengan Sate Klathak.

    Di semua lokasi kabupaten kota DIY sekarang mudah ditemukan Sate Klathak. Demikian juga di banyak kota di Jawa dan luar Jawa. Para penggemar Sate Klathak memang merasa afdol kalau mereka bisa membeli Sate Klathak di Wonokromo Pleret Yogyakata. Akan tetapi kalau rindu pada Sate Klathak tidak tertahan lagi, mereka bisa membeli Sate Klathak di dekat tempat kediamannya.

  • Tradisi Makan Daging di Jawa

    Tradisi Makan Daging di Jawa

    Sate Klathak Wonokromo, Pulau Jawa yang subur dengan masyarakatnya yang giat melakukan pekerjaan bertani, berkolam, berkebun dan beternak melahirkan tradisi makan daging dengan cara dimasak. Ini dilakukan ketika masyarakat Jawa menyelenggarakan upacara adat, antara lain kenduri dengan melengkapi menunya dengan daging.  Juga kegiatan agama seperti aqiqah dan kegiatan membagi daging kurban pada Hari Raya Idul Adlha ditambah saat hari tasyrik membuat masyarakat akrab dengan makanan yang terbuat dari daging. Dan hal ini dikenalkan oleh para ulama pada zaman kejayaan para wali dahulu. Bahkan waktu itu ada yang memitoskan kalau daging adalah makanan penduduk surga bersama dengan susu dan jahe.

    Dalam sebuah riwayat disebutkan kalau Sultan Agung menyelenggarakan andrawina atau pesta besar selalu menyertakan hidangan daging dengan mengerahkan tukang masak yang ahli masak daging yang berasal dari desa-desa sekitar ibu kota kerajaan Mataram Islam yang waktu itu berada di Kerto. Desa tempat asal tukang masak daging yang andal ini antara lain berasal dari desa Tempuran, dekat sekali dengan Kerto yang pada zaman Sri Sultan Hamengku Buwono I diresmikan menjadi desa Wonokromo.

    Adanya pesta daging yang dimasak lezat ini pernah dilaporkan oleh van de Haan, utusan atau diplomat Belanda ketika berkunjung ke Kerto.

    Selain itu, pulau Jawa memiliki hutan lebat, maka raja dan para bangsawan pun menjadikan sebagian dari hutan itu sebagai hutan perburuan. Hutan-hutan perburuan ini dipakai oleh raja, ksatria dan bangsawan serta prajurit pengiringnya sebagai lokasi perburuan binatang dan sekaligus menjadi lokasi latihan tempur.

    Kalau daging dari hasil peternakan di masyarakat petani biasanya dimasak dengan santan atau dikeringkan menjadi dendeng, maka hasil perburuan raja dan pengiringnya biasanya dinikmati dengan cara dipanggang. Mereka makan rusa guling beramai-ramai sampai kenyang.  Di kemudian hari kegiatan memanggang daging ini juga berkembang di masyarakat umum. Mereka mengadakan pesta kambing guling, ayam bakar dan ikan bakar. Setelah daging hewan ini matang mereka nikmati ramai-ramai. Masyarakat penggemar daging, khususnya daging kambing dan domba yang datang dari Yaman kemudian ke Jawa, ke Pekalongan dan Solo misalnya memiliki keahlian khusus memilih bagian daging yang bisa dimasak untuk campuran nasi kebuli dan masakan lainnya, juga bisa memilih bagian tertentu dari daging kambing yang bisa untuk obat herbal. Bahkan ada daging kambing panggang yang dicampuri  madu untuk menguatkan efek herbalnya.

    Pada zaman itu daging yang dipanggang merupakan daging utuh satu binatang. Atau satu potongan besar kalau binatangnya besar seperti sapi, kuda dan kerbau. Kemudian ada yang memiliki inisiatif membuat potongan kecil dengan bambu atau biting penusuk untuk memudahkan memanggang. Agar lebih sedap dimakan, maka daging panggang ini diberi garam atau bumbu rempah-rempah.

    Salah satu komunitas yang menggunakan biting atau lidi sebagai penusuk daging untuk dipanggang adalah komunitas atau masyarakat Ponorogo pada era Batara Katong. Mereka menyebut makanan ini sak biting atau makanan yang ditusuk dalam satu lidi. Dari kata sak biting diringkas menjadi sak ting ini, menurut sebuah riwayat muncul istilah sate.

    Sate Ponorogo awalnya menjadi makanan para warok. Dari sinilah istilah sate muncul pertama kali kemudian menyebar ke seluruh Jawa dan Nusantara.

    Dalam sebuah riwayat disebutkan bagaimana Pangeran Pekik, Adipati Surabaya yang ipar sekaligus besan Sultan Agung, dalam perjalanan dari Surabaya menuju Kerto, sempat mampir dan menikmati sate Ponorogo yang terkenal empuk dan berbumbu lezat itu. Makanan yang terbuat daging panggang yang diiris kecil-kecil, tidak lagi utuh satu binatang ini kemudian memang poluler dengan sebutan sate.

    Para santri kelana yang berkelana dari pesantren ke pesantren lain di pelosok Jawa kemudian makin mempopulerkan sate ke mana-mana. Para pedagang keliling pun mengenalkan sate ke kota-kota dan warga kota-kota di Jawa juga mengenal makanan lezat yang disebut sate. Bahkan kemudian sate berkembang ke luar Jawa menuju pulau-pulau di pelosok Nusantara sebagai bagian menu andalan masyarakat. Tiap daerah mengembangkan kekhasan bahan dan bumbu satenya sehingga kemudian muncul aneka macam sate di berbagai pelosok Nusantara atau Indonesia.

    Ketika kemudian, di zaman modern ada kampus, yaitu UGM melalui Fakultas Peternakan yang meneliti keberadaan sate. Para ahli gizi dan peneliti ini menemukan kalau di Indonesia ada 252 jenis sate, sebagian ditemukan asal usulnya dan sebagian sudah masuk dalam mitos masyarakat tradisional sehingga tidak bisa dilacak asal-usulnya.

    Sate Klathak pun kemudian hadir sebagai menu warga komunitas atau masyarakat pecinta makanan dari daging di Indonesia. Komunitas penggemar sate. Mereka bisa menikmati Sate Klathak di banyak tempat karena sekarang ini setiap penjual sate kambing selalu menyertakan menu Sate Klathak.

    Bahwa kemudian Sate Klathak bisa berkibar dan menarik banyak orang di Bantul, Yogyakarta dan Indonesia justru karena kesederhanaannya.  Bumbu tunggal berupa garam yang ditaburkan pada potongan daging kambing yang tengah dipanggang dimaksudkan untuk memunculkan rasa gurih daging kambing dengan tetap menjaga aroma daging kambing yang khas.

    Ketika memproses daging kambing menjadi irisan kecil dagingnya tidak boleh kena air adalah untuk menjaga kemurnian bau dan rasa daging kambing. Dagingnya menjadi segar dan tidak prengus, menurut bahasa Jawanya. Apalagi ini berasal dari kambing muda yang diberi makanan organik. Makan beberapa tusuk Sate Klathak perut tidak terasa neg dan tanpa adanya lemak pada irisan daging kambing, menurut Dr Ali Agus yang mantan Dekan Fakultas Peternakan UGM, membuat kandungan protein hewani yang tinggi tetap terjaga.